kadinsos mundur

Zakat Berujung Mundur

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on tumblr
Share on email
Share on whatsapp

Balya Nur

Banyak orang yang mengejar jabatan dan mempertahannya dengan segala cara. Baik dengan cara melanggar etika, melanggar peraturan negara, bahkan melangar ajaran agamanya. Tapi hal itu tidak berlaku bagi seorang Aziz Harahad, Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Provinsi Babel.

Dia lebih baik mengundurkan diri, meletakan jabatannya ketimbang dipaksa melanggar ajaran agamanya, dalam hal ini agama Islam. Bermula dari akan disalurkannya uang zakat mal yang dikelola oleh BAZNAS Provinsi. Azis meminta daftar mustahiq ( orang yang berhak menerima zakat mal )

Berdasarkan syariat Islam, tentu saja yang berhak menerima zakat mal adalah muslim, kecuali petugas zakat non muslim yang boleh memerima berdasarkan kerja profesionalnya. Cuma sayangnya, media menggoreng dengan memelintir judul berita dengan mengganti kata zakat mal menjadi bansos corona. Karena rata-rata warganet malas membaca isi berita, maka habislah Azis dibully di media sosial. Dituduh sebagai pejabat yang diskriminatif, menyebarkan SARA, dan semacamnya.

Badai bully itu sampai ke telinga Gubernur Babel. Sang Gubernur bukannya membela anak buahnya atau meluruskan malah membela para pembully. Walhasil, Azis ditegur karena menyalurkan zakat mal hanya kepada muslim saja.

Tentu saja Azis terheran-heran. Bagaimana mungkin seorang gubernur muslim yang tidak lebih dan tidak kurang adalah atasannya, tidak memahami makna mustahiq dalam penyaluran zakat mal? Setiap muslim pasti tahulah 8 asnaf yang berhak menerima zakat.
Fakir (orang yang tidak memiliki harta), Miskin (orang yang penghasilannya tidak mencukupi), Riqab (hamba sahaya atau budak), Gharim (orang yang memiliki banyak hutang), Mualaf (orang yang baru masuk Islam), Fisabilillah (pejuang di jalan Allah), Ibnu Sabil (musyafir dan para pelajar perantauan), Amil zakat (panitia penerima dan pengelola dana zakat)

Baca Juga:   Pak Harto Dan BPJS Kesehatan

Azis akan taat kepada atasannya selama atasannya tidak melanggar aturan negara dan ajaran agama. Tapi apalah Azis. Dia cuma anak buah yang tidak boleh melawan kebijakan atasannya. Maka dengan kesadaran penuh dan takut murka Allah karena dengan senagaja melanggar ajaran agamanya, Azis menulis surat pengunduran diri!

MUI ikut mengomentari soal ini. Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh diminta pendapatnya oleh detik.com.
“Zakat itu adalah jenis ibadah yang merupakan rukun Islam, yang ketentuannya diatur secara khusus sesuai syariat Islam. Menurut Jumhur Fuqaha (ulama ahli hukum Islam), harta zakat diwajibkan untuk orang muslim yang memenuhi syarat wajib dan disalurkan untuk delapan golongan umat Islam, kata Asrorun.

Memang, ada ulama berpendapat boleh memberikan bagian dari harta zakat kepada non-muslim yang menjabat petugas pengelolaan zakat, sebagai bagian amil zakat, sebagai upah dari pekerjaan mereka. Namun bagian itu didasarkan pada pekerjaan profesional yang dilakukan
Senada dengan pendapat NU, “boleh memberikan bagian dari harta zakat kepada non-Muslim yang menjabat sebagai petugas penimbang, humasi atau penjaga harta zakat. Kebolehan tersebut bukan pemberian atas nama zakat, namun atas nama upah dari pekerjaan mereka (dari bagian amil zakat) “

Lebih lengkapnya bisa dibaca di link https://islam.nu.or.id/…/bolehkah-memberikan-zakat-fitrah-k…

Sungguh mengherankan. Padahal bantuan bagi yang terdampak corona tanpa melihat latar belakang agama jauh lebih buaaaanyak ketimbang zakat mal. Mulai dari dibolehkannya dana desa untuk membantu yang terdampak corona, sampai uang jaring pengaman sosial tingkat kabupaten, tingkat provinsi, tingkat pusat, dan seabreg bantuan dari pihak swasta. Kenapa zakat mal yang jumlahnya lebih sedikit masih dikutak-katik juga?

Jadi teringat imbauan Wapres agar umat Islam mempercepat pembayaran zakat fitrah untuk membantu warga yang terdampak corona. Untung imbauan itu dicuekin. Kalau tidak, pasti akan menimbulkan masalah baru di tingkat nasional dan bukan mustahil malah jadi pemicu konflik SARA.

Baca Juga:   China Mulai Ajak Ribut di Natuna

Tentu saja Wapres yang juga kyai sangat memahami soal ini. Bayangkan, jika msialnya zakat fitrah terkumpul dan Wapres menyatakan, zakat fitrah itu disalurkan hanya untuk muslim. Bukan mustahil wapres akan dibully dan ujungnya ditegur atasannya. Pilihannya, meminta maaf atau mengundurkan diri.

Beginilah hidup di negara yang berpancasila, tapi lebih banyak yang sok pancasilais ketimbang yang memahami makna pancasila wabil khusus sila pertama.

-Balyanur

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
[COVID19 confirmed_title="Cases" deaths_title="Deaths" recovered_title="Recovered"]
%d bloggers like this: