Yenni, Aku, Dan Fanatisme Beragama Kami

Yenni, Aku, Dan Fanatisme Beragama Kami

Share:

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Oleh: Iramawati Oemar

Gencarnya serangan terhadap Ustadz Abdul Somad yang dianggap menghina agama lain, membuat saya teringat pada seseorang yang pernah saya kenal dan dekat dengannya, puluhan tahun lalu. Bukan, dia bukan seorang pemuka agama, dia hanyalah seorang gadis remaja biasa, adik kelas tepat satu tahun di bawah saya. Saya mengenalnya mungkin 35 tahun lalu, sekitar tahun 1984. Saat itu saya masih sekolah di salah satu SMP negeri di Bondowoso. Yenni asalnya siswi sebuah SD Kristen, namun entah mengapa dia tak melanjutkan SMP nya di SMP Kristen yang sama dengan SD-nya dulu. Dia memilih masih SMP negeri, kebetulan itu SMP negeri favorit di kota kami. Kami dipertemukan dalam seleksi calon tim “cerdas cermat” – yang mengalami masa sekolah di tahun-tahun seangkatan anak-anak “Laskar Pelangi” tentu tahu betul acara kompetisi pinter-pinteran segala ilmu pengetahuan yang ditayangkan di satu-satunya channel televisi saat itu : TVRI – karena SMP kami berencana mengikuti acara “Cerdas Cermat” di TVRI Surabaya. Saya terpilih diantara siswa yang baru naik kelas 3, sedang Yenni terpilih mewakili beberapa siswa kelas 2. Dan saat itu kami berdua sama-sama tidak termasuk dalam tim inti.
 
Persahabatan kami berlanjut ketika Yenni mengikuti jejak saya masuk ke SMA negeri yang sama. Padahal, secara jarak dari rumah kami ke sekolah itu cukup jauh. Apalagi kalau dari rumah Yenni, lebih jauh lagi. Jaman itu, apalagi di kota kecil, siswa SMA yang bawa motor tidak terlalu banyak. Yenni dan saya punya kesamaan : kami sama-sama anak yatim. Bedanya : Yenni anak tunggal. Mungkin Papa nya meninggal ketika Yenni masih kanak-kanak banget, entahlah, saya tak pernah bertanya, khawatir itu membuatnya sedih. Yang saya tahu Mamanya Yenni punya usaha berdagang, buka toko kelontong di pasar. Selain sekolah dan belajar, Yenni membantu Mamanya kulakan untuk toko kecil mereka. Oh iya, Yenni ini keturunan Tionghoa. Saya pernah tahu nama “chinese”nya, tapi karena menganggap itu tak penting, saya tidak pernah mengingatnya. Nama Mama nya masih nama Chinese, kalau saya tak salah ingat.

Satu hal lagi yang saya kagumi dari Yenni : dia sangat taat beribadah. Bayangkan, sejak masih ABG belasan tahun, dia sudah jadi aktivis gereja. Ketika kami satu SMA, Yenni meminjam buku paket (buku teks) yang saya pakai tahun lalu. Jaman dulu buku paket tidak berubah setiap tahun, jadi bisa dimanfaatkan adik kelas. Dan karena adik kandung saya bedanya 2 tahun di bawah saya, jadi buku paket bekas saya pakai tahun lalu bisa dipinjamkan dulu ke Yenni. Lagi-lagi kali ini kami ditakdirkan untuk satu tim lagi dalam rangka persiapan mewakili SMA kami ikut acara “Cerdas Cermat” tingkat SMA di TVRI Surabaya (channel TVRI untuk masyarakat Jawa Timur). Persahabatan kami makin akrab. Apalagi kami sama-sama ikut AFS Club – American Field Service Club, sebuah klub pertukaran pelajar ke Amerika – meski kami berdua kandidat yang gagal berangkat karena gak lolos seleksi, hahahaaa… Saya gagal di seleksi tahap kedua, Yenni gagal di tahap ketiga kalau gak salah.
 
Ada satu yang saya ingat betul sampai sekarang : Yenni selalu menulis di sampul buku-bukunya, sebuah tulisan “Extra Christum Nulla Salus” (mohon maaf kalau saya salah dalam menuliskan). Di bawahnya dia tuliskan artinya : “Diluar Kristus Tidak Ada Keselamatan”. Pertama kali membaca tulisan itu di bukunya, saya mengernyitkan kening “hmm…, aku juga gak selamat dong?!” Tapi apakah saya lalu marah pada Yenni? Tentu tidak! Dia nulis di buku tulis miliknya sendiri kok! Salah sendiri kenapa saya pinjam catatannya, salah sendiri kenapa pula saya baca. Sudah tahu kalau Yenni ini “fanatik” sekali pada agamanya, jadi wajar dong dia menulis begitu untuk dirinya sendiri! Saat itu keislaman saya masih…, yaah… amat jauh dari baik! Sholat masih terkadang bolong-bolong, pakaian masih belum berbusana muslimah yang menutup aurat, puasa hanya di bulan Ramadhan, baca Qur’an sesekali saja kalau ingat dan kalau merasa butuh. Tapi…, betapapun tidak rajinnya saya beribadah, saya punya rasa memiliki yang kuat pada agama saya, Islam. Meski belum taat menjalankan perintah Allah, saya tidak mau membenarkan pelanggaran atas larangan Allah. Intinya : saya gak taat beribadah, tapi bukan penganut liberalisme yang permissive bahkan kadang berani membantah apa yang Allah perintahkan dan membolehkan apa yang Allah larang. Saat itu saya bahkan “iri” kepada Yenni, sebab diusianya yang masih sangat belia dia sudah “alim” dan mampu fanatik pada agamanya, mampu mendoktrin dirinya sendiri bahwa “Tuhan”nya lah yang akan membawa dia pada keselamatan, bukan tuhan yang lain.
 
Pertemuan saya terakhir kali dengan Yenni adalah pada hari ketika pengumuman UMPTN (saat itu masih bernama Sipenmaru). Jaman dulu diumumkan di koran, jadi sejak subuh koran sudah diborong habis. Saya yang saat itu tidak tahu bahwa pengumuman dimajukan menjadi tanggal tersebut – maklum jaman dulu belum ada internet, tidak ada ponsel, tidak ada running text di televisi – tetap santai di rumah dan belum mandi sampai lewat jam 9 pagi. Jam 9.30an saya masih di kamar mandi ketika Ibu saya berteriak, ada Yenni datang ke rumah. Ternyata dia datang membawa berita saya lolos Sipenmaru. Yenni tidak baca di koran, dia hanya dengar tadi di sekolah guru-guru menyebut nama saya termasuk yang lolos masuk PTN. Yenni ke rumah karena dia hendak pinjam buku paket saya. Sejak itulah saya tak pernah bertemu lagi dengan Yenni dan lost contact. Maklum jaman dulu bahkan telepon rumah pun kami sama-sama tak punya. Saya merantau ke Surabaya untuk melanjutkan kuliah dan jarang pulang. Saya tak tahu Yenni melanjutkan kemana selepas SMA.
 
Di tahun ketiga saya kuliah, saya mulai belajar agama Islam lebih dalam, Alhamdulillah setelah membaca buku “Kuliah Tauhid” karya Imaduddin Abdurrahim, saya mendapat hidayah untuk mulai menutup aurat dan mulai mau datang ke majelis ilmu agama. Dalam kondisi ghirah beragama sedang berada di puncak, saya sering menuliskan lafadz “Innaddiena indaLaahil Islam” (sesunggunya agama/dien disisi Allah adalah Islam) dan “al Islamu ya’lu wa laa yu’la ‘alaihi” (Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya). Saya ingat Yenni dan tulisan di bukunya. Saya pun bisa merasakan betapa ada rasa yang tidak bisa dilukiskan, yang mendorong saya menulis kalimat-kalimat “sakti” itu untuk mendoktrin diri saya sendiri, memberi spirit pada sense of religiosity yang baru tumbuh. Bedanya : saya baru memulainya saat sudah di tahun ketiga kuliah, sedangkan Yenni sejak dia masih SMA. Saya telat “alim” dibanding Yenni.Tapi tak apalah, dulu saya sempat “iri” pada Yenni yang bisa punya fanatisme tinggi terhadap agamanya, setidaknya sekarang saya pun mengalami fase itu.

Kalau seandainya sekarang kami dipertemukan kembali dalam usia kami yang dan keadaan kami yang sekarang, saya yakin kami masih sama-sama punya rasa “bersahabat”. Dulu, 30an tahun yang lalu ketika say abaca tulisan tangan Yenni di bukunya bahwa tidak ada keselamatan diluar Kristus, saya tidak marah maupun tersinggung. Tidak juga membuat saya menjaga jarak dengannya, atau tak rela meminjamkan buku saya padanya. Saya justru salut dengan fanatisme dia pada agamanya. Sebab bagi saya orang yang bisa punya rasa memiliki, rasa kebanggaan (pride) menjadi bagian dari pemeluknya, itu orang-orasg yang punya konsistensi dan sanggup konsekuen dengan pilihannya.
 
Kalau saja waktu itu saya sudah se-fanatik Yenni pada agama saya, Islam, lalu menuliskan “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam”, apakah Yenni akan menjauhi saya dan tidak mau meminjam buku dari saya? Saya yakin tidak! Kami dua orang yang beda etnis dan beda agama, saya masih ada keturunan/darah Madura, sedangkan Yenni keturunan Tionghoa. Kami juga berbeda agama. Masing-masing kami memahami bahwa sebagai ummat beragama kami WAJIB fanatik terhadap agama kami, kami meyakini bahwa agama kami lah yang paling benar, Tuhan kami lah yang akan memberi keselamatan pada kami.
 
Bayangkan kalau setiap ummat beragama didoktrin bahwa semua agama sama saja, sama benarnya, sama selamatnya, pokoknya sama semuanya. Bisa jadi kalau sedang malas sholat 5 waktu sehari, seminggu ini atau sebulan ini saya memilih beribadah menurut agama lain yang tidak perlu 5 kali sehari. Boleh jadi kalau tiba bulan Ramadhan dan tidak ingin puasa, saya memilih ikut ajaran agama lain saja dulu, nanti lebaran Idul Fitri ikut lagi sholat Ied. Jadi kacau bukan?!

Baca Juga:   Mengintai 24 Jam, Musuh Gubernur Anies Seperti Piranha Lapar

So…, semua ummat beragama tidak perlu sensi dan tersinggung dengan ajaran agama lain. Kalau ada yang mengatakan saya ini “domba” yang tersesat sesesat-sesatnya, ya saya woles saja, tidak akan tersinggung sama sekali. Sebab saya memang “sesat” jika dipandang dari sudut pandang agama lain. Kalau ada yang bilang saya ini gak bakal selamat karena tidak beriman kepada tuhan mereka, ya monggo saja, sebab tidak selamatnya itu dari ukuran mereka.
 
Saya ingat ketika dulu pernah tinggal di Jepang, sekali waktu saya ikut darma wisata dengan semua teman sekolah, saya lupa saaat itu obyek wisatanya ke mana, yang jelas disitu ada suatu tempat dimana orang yang bisa berjalan lurus dari satu titik start menuju ke titik finish (yang sudah tertentu) dengan mata tertutup sambil membayangkan kekasihnya, maka dia akan langgeng hubungannya dengan kekasih tersebut. Tapi kalau jalannya melenceng dan tak sampai ke titik yang dituju, maka hubungan dengan sang kekasih yang dibayangkan akan bubar di jalan. Saya pikir : aaah…, ini challenge mudah banget. Sebab sepanjang jalur yang tidak terlalu panjang itu – mungkin hanya 10 meteran – berdiri banyak orang/wisatawan di kedua sisinya. Mereka riuh rendah meneriaki siapapun yang mencoba, menyemangati. Jadi saya pikir pasti bisalah jalan lurus. Teman saya mencoba, membayangkan pacarnya di Indonesia. Dan…, jalannya melenceng, dia gagal mencapai finish seperti juga puluhan orang lainnya yang mencoba. Teman saya tampak kecewa. Lalu pimpinan rombongan kami menghibur : “Tenang saja, bukankah ‘Tuhan”nya orang Indonesia beda dengan ‘Tuhan”nya orang Jepang?” dan kami pun tertawa mendengarnya. Ya, maksud beliau : kepercayaan kita beda, jadi tak perlulah kamu serius menanggapi apa yang dipercaya dalam ajaran kami. It’s so simple, kan?
 
BERBEDA ITU INDAH, ASAL JANGAN ADA YANG LOMPAT PAGAR!
(I miss you, Yenni, my old close friend)

Baca Juga:   Kalau Luthfi “Bendera” Alfiandi Dihukum Penjara
Follow Us

2
Leave a Reply

avatar
2 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
Dadi CeMawardi Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Mawardi
Guest
Mawardi

Masya Allah, yakin sy banyak kisah lain dlm kasus berbeda tapi sama maknanya, yaitu keyakinan kebenaran agamanya tampa mempngaruhi or menyalahkan yg berkeyakinan lain.
Hal yg sama juga sy alami, tapi dilingkup pekerjaan.
Sy dimarahi oleh sahabat yg berbeda agama, gara² sering terlambat berangkat shalat Jum’at…! 👍😂

Perbedaan mencolok dari kisah diatas, Cerdas Cermat sdh diganti dg togoger idel…! 🙏😂

Dadi Ce
Guest
Dadi Ce

Mantaaaaaps, mba Ira.
Inspriratif …
Beragam tidak harus seragam.

2 Responses/5