Pejara Yehova

Yehova Jadi Saksi Ketidakadilan Terhadap Islam

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on tumblr
Share on email
Share on whatsapp

Peristiwa demi peristiwa yang terjadi di negeri ini seperti serial sinetron. Seri radikal radikul dengan Menag sebagai tokoh utamanya dimulai dari pernyataan “perang” terhadap radikalisme.

Balya Nur

YEHOVA JADI SAKSI KETIDAK ADILAN TERHADAP ISLAM

Peristiwa demi peristiwa yang terjadi di negeri ini seperti serial sinetron. Seri radikal radikul dengan Menag sebagai tokoh utamanya dimulai dari pernyataan “perang” terhadap radikalisme. Menyusul stigma terhadap celana cingkrang dan cadar. Menag jadi khotib sholat jumat tidak melapazkan sholawat. Menag akan menasihati UAS .

Serial UAS mulai dari muslim dan lompat pagarnya non muslim membully pendapat para imam mazhab soal hukum catur yang diucapka UAS dalam cemarahnya tahun 2017. Menyusul UAS ceramah di KPK yang membuat komisioner KPK berang dan menuduh UAS beraliran tertentu, entah aliran apa.

Serial kebangsaan mulai dari Agnez MO yang dituduh tidak mau megakui keindonesiaannya, disusul berita menghebohkan, 2 siswa SMP di Batam dikeluarkan dari sekolah gara-gara menolak menghormati bendera merah putih dan menolak menyaynyikan lagu kebangsaan. Bukan karena anti lambang Negara, tapi karena kedua murid itu memegang teguh ajaran agama yang dianutnya yang sudah terpatri kuat dalam kepercayaannya. Apa agamanya? Nah, disinilah masalahnya.

Pihak sekolah tidak mau terus terang menyebut agama kedua anak itu. Para guru kepada wartawan hanya menyebut, ajaran “aliran tertentu.” Negeri ini sedang demam Islamophobia di tengah perang terhadap radikalisme yang semua telunjuk mengarah kepada umat Islam gara-gara kebijakan pemerintah yang serampangan soal radikalisme.

Maka hujatan terhadap Islam di dunia maya tidak dapat lagi dibendung. Hanya dalam hitungan jam setelah berita kedua anak SMP itu dikeluarkan, betebaranlah komentar-komentar semacam ini :

“ Tinggal dan hidup di Indonesia tapi gak mau menghomati simbol negara, mungkin mereka dicuci otaknya dengan paham khilafah …bibit2 teroris “
“Mending mabok anggur drpd mabok agama, mending salah gaul drpd salah pengajian.”
“ Sistem pengkaderan ala ISIS . Dari kecil sudah diajarkan militant. Periksa ortu dan lingkungannya juga. Gak mungkin anak-anak itu radikal sendiri. “

“ Mungkin mereka adalah korban dari dakwah yang sesat. Hasil binaan kajian pengajian yang terselubung. “

Baca Juga:   Seluruh Dunia Takut Virus Corona, Bisakah Dipercaya Indonesia Masih Steril?

Itu cuma beberapa contoh. Buaaanyak sekali komentar-komentar semacam itu di dunia maya. Kemudian hasil investigasi media, ternyata dua anak SMP itu bukan muslim, tapi penganut ajaran Saksi Yehova, atau Saksi Yehuwa, sempalan Kristen. Dalam bahasa Wikipedia disebut, Saksi-Saksi Yehuwa adalah suatu denominasi Kristen, milenarian, restorasionis dengan kepercayaan nontrinitarian yang terpisah dari Kekristenan arus utama.

Kontan dunia maya bungkam dari hujatan terhadap Islam. Apakah beralih menghujat ajaran Saksi Yehova? Nggak lah. Barangkali kurang seksi. Kalau toh ada yang berkomentar, narasinya lebih lunak dan mengayomi. Contohnya, “ Beri pemahaman terus menerus , kunjungi keluara tersebut oleh guru dan pemuka agama terpercaya . Menerdaskan bangsa adalah tujuan bernegara. “

Menag yang biasanya galak dalm soal ini, menolak berkomentar banyak. Dia cuma bilang sebagaimana dikutip detik.com. “Kalau memang ada orang begitu, harus ada pembinaan khusus. Nggak boleh kalau itu benih-benih yang sangat berbahaya ke depannya,” kata Fachrul di Hotel Aryaduta, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (27/11/2019) Namun dia enggan memberi penilaian apakah kedua siswa itu memang harus dikeluarkan dari sekolah atau tidak. Fachrul hanya menekankan kedua siswa itu butuh pembinaan secara khusus

DPR yang biasa galak kalau ada ajaran agama yang anti hormat bendera, kali ini sama lembutnya dengan Menag. Wakil Ketua Komisi X Hetifah Sjaifudian dari Partai Golkar menyayangkan hal itu dan mengingatkan hak anak untuk tetap mendapat pendidikan.

“Mengeluarkan anak dari sekolah tidak akan memecahkan persoalan mendasarnya. Bagaimana pun juga hak semua anak WNI untuk mengenyam pendidikan dasar,” kata Hetifah kepada wartawan, Selasa (26/11/2019).

KPAI juga tidak kalah bijaknya, sebagaimana dikutip Tempo.co. Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto menilai pimpinan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 21 Batam terlalu buru-buru mengeluarkan dua siswa mereka karena tidak hormat ketika upacara pengibaran bendera merah putih. Menurut Susanto, sekolah seharusnya melakukan upaya maksimal sebelum mengeluarkan siswa. Sebab sekolah merupakan wadah untuk mendidik agar cara berfikir, sikap dan perilaku anak semakin baik.

Baca Juga:   Jangan Bermain Api, Nanti Kalian Yang Terbakar

“Upaya persuasif mestinya jalan terbaik agar anak tetap sekolah dan seiring berjalannya waktu, diharapkan berubah,” ujar Susanto saat dihubungi Tempo pada Rabu, 27 November 2019

Nggak jelas juga upaya persuasif apa. Ini kan soal ajaran agama yang diyakininya. Herlina Sibuea, orangtua kedua anak SMP yang menolak hormat bendera itu menjelaskan, sejak Sekolah Dasar (SD) mereka sudah memberikan surat rekomendasi dari agama yang mereka anut.
“Dulu anak kami sekolah di SD swasta Tiranus, tidak ada masalah. Bahkan masuk ke SMPN 21 kami juga berikan surat rekomendasi,” kata Herlina.

Artinya, sejak SD dan setahun di SMP kedua anakya itu tidak hormat bendera dan tidak ada masalah. Pihak sekolah barangkali mengamalkan sila pertama, menghormati ajaran setiap agama yang dianut oleh tiap warganegara hingga mengizinkan dua siswa itu hanya bersikap tegak, tidak bersikap hormat terhadap merah putih.

Tapi kerena belakangan ini Menag serius tingkat dewa dalam memerangi radikalisme hingga akan membentuk Satgas 11 kementerian segala, tentu saja pihak sekolah jadi ketar-ketir. Gara-gara ada dua muridnya yang atas nama sila pertama dikasih dispensasi tidak menghormati bendera, bisa-bisa sekolahnya kena gigit satgas.Maka sebelum kena gigit, mending mengeluarkan dua muridnya itu.

Pengamat politik Boni Hargens siapa juga tahu kalau dia jokower tulen 24 karat. Bulan Juli 2017 dia membuat pernyataan tertulis perihal permintaannya kepada pemerintah untuk membubarkan sekte Saksi Yehuwa.

Selain Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) berbasis agama Islam, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Sekte Saksi Yehuwa juga dapat dibubarkan. Ini karena saksi Yehuwa menunjukkan sikap anti Pancasila karena tidak menghormati bendera merah-putih.

“Mereka (Saksi Yehuwa) menganggap penghormatan terhadap bendera negara adalah berhala yang dilarang dalam kitab sucinya. Ini anti-Pancasila dan layak dibubarkan,” kata Pengamat Politik, Boni Hargens, dalam keterangannya, Selasa (25/7/2017).
( Pernyataan lengkapnya silakan klik link : https://www.antaranews.com/berita/642580/boni-hargens-tolak-hormat-bendera-merah-putih-yehova-layak-dibubarkan )
Tentang isi kitab yang melarang hormat bendera bisa dibaca di kolom kementar. Pada berita tersebut.
“ Hormat menerjemahkan kata Honor dan Respect dalam satu kata. Karena honor bermakna menghargai maka begitu juga bentuk kata hormat. Saksi Yehova menghargai setiap orang maupun attribut setiap negara dengan tidak bersikap sembarangan seperti meludah, membakar, dll. Tetapi menolak salut (sikap tubuh satu tangan ke atas kepala) ketika upacara bendara saat aba-aba dikumandangkan namun tetap berdiri sempurna kedua tangan di samping, karena ini mengingatkan peristiwa di Kitab Daniel pasal 3. “
Apakah suara Boni didengar Jokowi? Kan sudah jelas ada ajaran agama yang meralang hormat bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan sebagaimana yang juga dituduhkan pada HTI saat membubarkan HTI. Karena yang bicara adalah relawan militannya, tentu aja Jokowi dengar. Cuma dengar doang. Selebihnya, cuek bebek. Dan menteri agama yang katanya menteri semua agama juga pasti tahulah. Tapi kayanya memilih pura-pura tidak tahu.

Baca Juga:   Catatan Kecil Sekitar Senayan

Tentu saja bukan hanya ajaran Saksi Yehova yang melarang hormat bendera dengan sikap sebagaimana lazimnya, tapi ada juga di kalangan umat Islam yang menganggap menghormati benda mati seperti bendera adalah musyrik. Sebagaimana kita ketahui, Islam kan banyak mazhab dengan sejumlah variannya. Tapi dalam Islam kan selalu ada jalan keluar yang berama ijtihad. Bisa saja dengan berdasarkan dalil tertentu, berijtihad dengan memaknai hormat bendera tidak sama dengan menyembah benda mati.

Entahlah, apakah Saksi Yehova ada yang moderat atau semua tetap konsisten dengan yang tertulis dalam AlKitab yang diyakininya. Kayanya sih mereka tetap berpegang teguh pada ajarannya. Buktinya, orang tua kedua murid SMP itu berencana menggugat sekolah yang telah memecat kedua anaknya.

Coba bayangkan, jika ada orang tua muslim yang meyakini bahwa homat bendera adalah menyalahi ajaran yang diyakininya, kemudian menggugat sekolah yang memecat anakya gara-gara menolak hormat bendera. Apa yang terjadi? Tahu sama tempe, eh tahu lah.

28112019

  • Balya nur

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
[COVID19 confirmed_title="Cases" deaths_title="Deaths" recovered_title="Recovered"]
%d bloggers like this: