covid

Yakinkah Kita Dengan “KEBENARAN” Jumlah Yang Terpapar Covid-19 Dan Yang Meninggal??!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on tumblr
Share on email
Share on whatsapp

Tim medis, tenaga kesehatan dan pihak-pihak yang berkompeten HARUS DIBERIKAN ANGKA YANG VALID, agar mereka bisa memberikan masukan yang TEPAT untuk langkah kuratif dan preventif penyebarannya agar tak makin meluas.

Iramawati Oemar

Tanggal 22 Maret lalu, saya mendapat kirimam gambar tabel yang pertama. Yaitu prediksi jumlah orang yang akan terpapar Covid-19 sela bulan Maret 2020 dibandingkan dengan realisasinya.
Realisasi yang dimaksud adalah jumlah yang secara resmi diumumkan oleh Pemerintah melalui Tim Gugus Tugas Covid19, biasanya dilakukan oleh Jubir pak Yurianto, setiap sore.

Saya takjub melihat angka-angkanya yang memang mirip banget. Sejak tanggal 9 Maret, persis sepekam setelah “korban” pertama diumumkan positif mengidap virus corona, angka prediksi dari seorang epidemiolog ini nyaris selalu berimpit dengan angka riilnya.

Saya lalu mengambil data 7 hari terakhir : mulai 15 Maret ~ 21 Maret 2020.
Saya bandingkan berapa persen realisasinya dibandingkan prediksinya.
Misalnya :
1️⃣ 15 Maret : prediksinya 102 orang (+), realisasinya 117 orang (+), maka prosentasi realisasi terhadap prediksi = 101,47%
2️⃣ 16 Maret : prediksinya 133 orang (+), realisasinya 134 orang (+), maka prosentasi realisasi terhadap prediksi = 100,75%
3️⃣ 17 Maret : prediksinya 173 orang (+), realisasinya 172 orang (+), maka prosentasi realisasi terhadap prediksi = 99,42%
4️⃣ 18 Maret : prediksinya 225 orang (+), realisasinya 227 orang (+), maka prosentasi realisasi terhadap prediksi = 100,89%
5️⃣ 19 Maret : prediksinya 292 orang (+), realisasinya 309 orang (+), maka prosentasi realisasi terhadap prediksi = 100,58%
6️⃣ 20 Maret : prediksinya 380 orang (+), realisasinya 369 orang (+), maka prosentasi realisasi terhadap prediksi = 97,1%
7️⃣ 21 Maret : prediksinya 494 orang (+), realisasinya 450 orang (+), maka prosentasi realisasi terhadap prediksi = 91%

Selama 7 hari terakhir itu jika dirata-rata, maka akurasi antara realisasi terhadap prediksi adalah 98,74%.
Tingkat melesetnya kurang dari 1,5%!!
Relatif akurat!

⚠️ Nah, dengan mengacu pada tingkat akurasi 98,74% itu, maka jika pada tabel itu pada tanggal 31 Maret 2020 diprediksi akan ada 6.812 orang yang POSITIF terpapar COVID-19, maka REALISASI-nya akan di kisaran angka 6.726 orang!!
Apalagi Pemerintah saat itu mengatakan sudah mengimpor alat rapid tes dari China dan dikabarkan mulai hari Senin akan dimulai pelaksanaan rapid tes.
Bahkan ada influencer yang sudah merilis video “edukasi” yang tujuannya menyampaikan kepada masyarakat agar jangan kaget kalau setelah ini angka yang positif akan jadi tinggi, sebab yang di tes makin banyak.

Baca Juga:   Demo #SaveBabi Di Medan Beraspek Politis dan Tak Sensitif

Oke, bagi saya itu lebih baik!
Makin banyak orang yang di tes, makin banyak probabilitas yang ketahuan positif terkena Covid-19, sehingga tindakan prefentif penyebarannya bisa segera dilakukan.
Yang dinyatakan positif jika sama sekali tidak menunjukkan gejala sakit, maka segera diwajibkan mengisolasi diri di rumah. Keluarganya, rekan² kerjanya, bisa waspada agar tidak ketularan. Tempat kerjanya bisa memberikan dispensasi minimal 14 hari untuk karantina diri.
Sedangkan yang sudah mulai ada gejala bisa segera diberi obat dan meningkatkan sistem immun.
Itulah yang dilakukan Korea Selatan : melakukan tes secara besar²an dan memaksa warganya mengisolasi diri jika dinyatakan positif. Tak jadi masalah yang positif jumlahnya besar, karena itulah RIIL-nya. Yang penting bagaimana langkah antiispatifnya.

Nah, kembali ke tabel pertama, bagaimana kelanjutannya??!
Ternyata, sore hari tanggal 22 Maret 2020, angka yang diumumkan pak Jubir jauh dari angka 600-an.
Sampai sekarang pun, sudah lewat 3 hari (posisi terakhir kemarin sore) dari tanggal 31 Maret 2020, ternyata angka yang dinyatakan positif Covid-19 “HANYA” dikisaran angka seribuan. Naiknya “landai” dari hari ke hari. Begitupun angka kematiannya.

⛔ Jika TINGKAT KEMATIAN terhadap.yang positif kita ambil rerata di angka 8,5%, maka jika merefer pada prediksi vs realisasi di atas, maka per 31 Maret = 8,5% x 6.726 = +/- 572 orang.
Kenyataannya??!
Yang diumumkan masih di angka 100-an orang.

Di gambar kedua, ada peringkat jumlah warga yang dites di setiap negara, perbandingannya per 100.000 jiwa.
INDONESIA menempati ranking 2!!
Hebat!!
Tapi maaf…, ranking 2 dari BAWAH!!
Hanya 2 orang yang di tes per 100.000 penduduk.
Jadi kalau ada 100.000.000 penduduk, yang dites hanya 2.000 orang saja.
Anggap saja ada 200.000.000 penduduk usia remaja hingga lansia, maka yang di tes hanya 4.000 orang saja!!
Itupun, apakah hasilnya diumumkan secara terbuka dan apa adanya, jujur??! Kita tidak tahu!!

Baca Juga:   Info Tak Valid: Mahfud MD Minta Diangkat Menjadi KSAD

Jika kemarin hanya Pak Anies saja yang mengungkap bahwa jumlah kematian di Jakarta saja yang pemakamannya diperlakukan dengan SOP penanganan jenazah penderita Covid-19 sudah 200-an lebih, kini Ridwan Kamil pun mulai berani ikut buka suara.
Data kematian di Jakarta sepanjang tahun 2019 hingga Februari 2020 menunjukkan fluktuasi yang relatif rata, berkisar di angka 2.000-an perbulan. Tapi khusus di bulan Maret 2020, naik tajam menjadi 4.000-an.
Memang, penyebab kematian bisa bermacam².
Tapi…, tidakkah ANEH lonjakan yang sampai 2 (DUA) KALI LIPAT dari 14 bulan sebelumnya?!

Sebagai orang awam namun sedikit agak pahamlah soal statistik, jujur saja saya RAGU – untuk tidak mengatakan TIDAK PERCAYA – pada angka yang setiap hari diumumkan oleh Juru Bicara Pemerintah.

Jika sebenarnya angka-angkanya – baik yang positif Covid-19 maupun yang meninggal – ternyata jauh lebih tinggi dari yang diumumkan, saya benar-benar tidak paham kenapa harus ada yang disembunyikan?! Bukankah ini justru bumerang yang berbahaya, karena akan membuat salah arah dalam pengambilan keputusan?!

Tim medis, tenaga kesehatan dan pihak-pihak yang berkompeten HARUS DIBERIKAN ANGKA YANG VALID, agar mereka bisa memberikan masukan yang TEPAT untuk langkah kuratif dan preventif penyebarannya agar tak makin meluas.

= IO =
(Iramawati Oemar)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
[COVID19 confirmed_title="Cases" deaths_title="Deaths" recovered_title="Recovered"]
%d bloggers like this: