TURUNKAN JOKOWI

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on tumblr
Share on email
Share on whatsapp

admin

Semalem liat mata Najwa pembahasan soal revisi UU KPK yang sudah di sahkan jadi UU. Narasumbernya di bagi 2, yang pro di wakili oleh DPR dan yang kontra di wakili oleh praktisi hukum dan ahli tata negara.

Dari mulai pembawa acaranya, si Najwa. Narasumbernya yang kontra, hingga ke penonton semuanya memihak pada KPK. Kubu DPR seperti di persekusi atas kehendak revisi UU KPK.

Padahal, keinginan DPR tidak akan berjalan mulus tanpa kekuatan tangan PRESIDEN. Apapun keinginan DPR, harus melalui persetujuan presiden dahulu. Jika DPR menginginkan namun presiden menolak, maka semuanya gak akan terlaksana.

Dan di revisi UU KPK ini, terjadi kerjasama yang apik antara DPR dan presiden.

Rumusan revisi ini sangat cepat di proses. Kita selama ini sudah tau, bahwa dpr sangat lamban bekerja. Namun untuk revisi UU KPK, mereka sangat cepat bekerja.

“Ada apa dengan mereka…??”

Pembahasan hingga pengesahan revisi UU KPK ini hanya memakan waktu 13 hari saja. Presiden memiliki waktu 30 hari untuk meninjau, menganalisa dan memutuskan revisi yang di hadapkan padanya. Namun dalam Tempo 30 hari itu, presiden hanya memanfaatkan waktu 3 hari saja untuk mengirimkan surat presiden (Supres) sebagai tanda bahwa presiden setuju atas revisi UU KPK. masih ada sisa 27 hari lagi untuk berpikir, namun presiden seperti ingin segera di sahkan menjadi UU tanpa perlu menunggu lama lagi.

“Kenapa presiden bisa secepat kilat setuju?”

Karena 13 hari lagi, anggota DPR akan habis masa jabatannya. DPR di buru dan Presiden pun inginkan dalam masa akhir tugas, DPR segera wujudkan apa yang di Maui Bersama.

Saking terburunya, rapat Paripurna pengesahan revisi UU KPK hanya di hadiri 112 kepala walaupun jumlah absennya sampai 250-an lebih. Ini sisanya kemana? Pada nitip absen doank?

Baca Juga:   Rusak Hati, Cari Sensasi

Marah sama DPR, gak ada gunanya. Karena pembahasan KPK seperti melihat tom dan Jerry. DPR ini mempunyai dendam pada KPK, hampir semua fraksi di DPR pernah berurusan dan tertangkap tangan oleh KPK. Ada tuduhan bahwa KPK ikut mencemarkan nama partai mereka dengan kelakuan tangkap tangan.

Kalau mau bermimpi DPR mencintai KPK sepenuh hati, maka mimpilah Jokowi berkantor di lahan yang terbakar saat ini. Gak akan mungkin terjadi. Seperti mengharapkan, matahari terbit dari Utara lalu tenggelam di timur laut.

Gen DPR itu memang harus membenci KPK. Karena KPK, sebuah kebiasaan pembahasan anggaran menjadi bosan karena tidak ada “jatah” yang di bunyikan.

Memberikan masukan pada DPR akan keinginan revisi KPK, sama aja melukis di atas air. Tidak akan membuat mereka sadar dan anulir keinginan. Jika DPR sudah berkenan, maka mereka akan terus maju tanpa bisa di hentikan lagi. Kecuali, ada tawaran menarik yg bisa membungkam mulut mereka.

Andai DPR ingin membuat aturan bahwa mengambil komisi 10% dari anggaran yang di bahas adalah legal, maka mereka bisa lakukan itu tanpa bisa di kecam atau di kritik keras. Tinggal memberikan alasan ala penjualan obat di pasar malam, maka mereka sudah di anggap benar oleh si otak kerdil.

Tinggal kedip mata sama presiden, dan bisikin sesuatu yang buat presiden Rada jantungan

“Sssst, inget loh yang kemaren….*Ting”

Bagi saya DPR hanya sebuah alat yang memuluskan apa keinginan eksekutif. Apalagi koordinasi antara partai koalisi dan pemerintah sangat solid terjalin. Sebelum revisi ini memanas, sudah ada diskusi di ruang khusus antara partai koalisi sebagai pengusung revisi UU KPK dengan presiden.

Baca Juga:   Gegara Salah Ketik “Posisi”, Prabowo Tak Jadi Oposisi

Obrolan imajiner nya bisa begini..

“Udah, kalian cepet kan aja pembahasannya. Nanti serahkan sama saya drafnya. Secepat kilat akan saya setujui untuk di tindak lanjuti ke pengesahan…”

Kala semua berharap pada presiden agar menolak, ternyata anti klimaks saat presiden justru menyetujui dengan waktu yang sangat cepat. Di sini terlihat bahwa keinginan revisi itu bukanlah keinginan DPR belaka, melainkan sudah menjadi agenda koalisi Jokowi untuk segera merubah KPK yang ganas menjadi KPK yang manja dan jinak.

Ada kecurigaan bahwa revisi KPK yang cepat, untuk menutupi sebuah kasus besar yang saat ini sudah bergulir bau korupsinya sebagai sumber dana kampanye pemilu 2019. Ada juga tuduhan, bahwa di periode terakhirnya ini semua pihak yang terlibat di pemerintahan baik itu di dalam maupun di luar pemerintahan harus mendapatkan kekayaan diri dengan mengambil keuntungan dari setiap proyek yang di kerjakan.

Saat mereka lakukan itu, mereka harus pastikan dulu bahwa KPK sudah di amankan.

Ibarat singa, KPK mempertahankan bentuk dan wajah singa yang garang. Namun mereka menanggalkan taring singa dan cakarnya. Ketika KPK mengaum, para muka cabul itu hanya tertawa. Saat di cakar dan di gigit, imajinasi si cabul itu seperti bermain dengan pelacur yang lagi memuaskan nafsu mereka.

Kata partai socmed, salah satu pendukung Jokowi.

“Habibie membuat UU Anti korupsi, Gusdur merancang KPK, Megawati membentuk KPK, SBY menjaga KPK, lalu Jokowi…menghabisi KPK”

Dan itu benar terjadi.

Lalu siapa yang saat ini meradang? Apakah saya sebagai pendukung prabowo atau mereka pendukung Jokowi yang kecewa?

Sebagai pendukung Prabowo, sudah terlalu lama kami kecewa. Kami ibarat peramal yang sudah memprediksikan hal ini akan terjadi. Saat benar terjadi, bukan kami lagi yang kecewa. Justru kami yang paling bangga bahwa semua ini terjadi sesuai prediksi.

Baca Juga:   MERDEKA ITU, SAAT BUKAN MEREKA DI ISTANA

Dan kalian, pendukung yang sudah berjasa membawa ia memimpin kembali di negara ini. Terima hasilnya dengan lapang dada, terima apa saja keputusan pemerintah di tangan Jokowi. Karena kebijakan saat ini, baru permulaan saja dari apa yang akan dia lakukan nanti. Masih banyak kejutan-kejutan yang akan di berikan Jokowi.

Saya harap kalian sebagai pendukung Jokowi bisa kuat, jangan bunuh diri secara masal karena kalian sudah berperan menjerumuskan Bangsa ini ke jurang kehancuran. Sekarang, silahkan kalian curahkan semua kekecewaan, semua kemarahan dengan berbagai aksi yang ingin di lakukan.

Izinkan kami menyaksikan emosi kalian, sambil tersenyum di ujung jalan.

Dalam kesempatan, pernah saya berdoa pada Tuhan..

“Tuhan, jika saat ini pemimpin yang kami dapatkan adalah sebuah kesalahan. Tolong percepat saja penampakan kesalahan ia. Jika hancur, maka percepatlah kehancurannya. Agar kami bisa membangun kembali, setelah ia hancurkan. Kami bangun kembali, bersama pemimpin baru yang akan menyelamatkan kami dan negeri ini ..”

Dan Tuhan menjawab doa itu dengan memperlihatkan bagaimana ketamakan mereka di pemberantasan korupsi kita.

Step by step, perlahan namun pasti akan ada lembaran berikutnya, hingga nanti akan ada suatu masa di mana kita, saya dan kalian pendukung Jokowi bersatu di jalanan dan berteriak…

“Turunkan Jokowi..!!”

Payakumbuh, 19 September 2019

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
[COVID19 confirmed_title="Cases" deaths_title="Deaths" recovered_title="Recovered"]
%d bloggers like this: