Tlah Kuterima Kabar Darimu

Tlah Kuterima Kabar Darimu

Share:

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Catatan Lama Maya Amhar

Setiap kali aku lewat dipekuburan itu.
Ada perasaan aneh yang membingungkan aku.
Sedih .. iri … hormat ..
Aku tergetar oleh perasaan itu ..
Dan tunduk …

Aku tidak tahu, siapa dia sesungguhnya dulu.
Yang terbaring, ditanah perkuburan itu.
Aku menggelepar dalam rasa ingin tahu yang teramat dalam.
Ditengah perjalanan sunyiku.

Berkali-kali lagi, aku lewat kesana.
Perasaan itu, tidak juga berubah.
Hingga aku marah !!!
Dipuncak ketidak mengertinya aku !!!

Aku telah sering lewat dibanyak Taman Pemakaman Umum.
Dikampungku, dikota-kotaku, dirantau yang aku lalui.
Bahkan pernah melintas “TPU” dimalam gelap.
Tidak aku temukan perasaan itu.
Tapi dipekuburan ini …
Aku menggelapar resah, atas semua perasaanku itu.
Kenapa ada rasa iri ?
Kenapa ada rasa hormat ???
Kenapa ada rasa tergetar dan marah !!!
Kenapa ada rasa sedih yang membuat resah !
Siapakah engkau Eyang Haji Zarkasih dan Haji Idris ???
Yang namamu tertulis dikomplek pekuburan itu !!!
Dan siapakah engkau Dalem Kaum ???
Kukenal engkau dikomplek pekuburanmu.

Ditahun baru Islam saat itu…
Kulihat banyak rombongan datang kemakammu “Eyang Haji Zarkasih dan Haji Idris”
“Ziarah !!!”. Katanya.
“Pendiri pesantren terbesar di Jawa Barat”. Katanya lagi.
“Dulu … !!!
Puluhan tahun yang lalu, ..
Di Cibaduyut ini tempatnya”. Katanya lagi.
“Pesantren yang teramat besar dan luas “.
“Dari sana sampai ke sananya lagi !”
“Terus ke situ dan ke situnya lagi !” “Teramat luasnya !”
“Dan mesjid itu .. “
“Tepat berada ditengah Pesantren”. “Santrinya banyak sekali, dari mana-mana”.
Ceritanya bangga.

Aku melongo .. melotot .. dan bingung !!!!!!!
Sebab dari sana terus ke sananya lagi. Terus ke situ sampai ke situnya lagi itu ..
Hanya ada rumah-rumah dan toko-toko yang dibelah oleh jalan Cibaduyut Raya !!!
Dan Pesantren itu, memang masih ada !
Kulihat tulisannya bernama, “Al-Rosyid”
Tepat dibelakang mesjid, tempatku biasa berwudhu.
Ada sebuah bangunan kayu berukuran sekitar 4x4m yang kutahu.
Berdiri nangkring diatas dua jamban ! Dan dua kamar mandi !!! Dan tempat wudhu !.

Baca Juga:   MEMBUNUH BAYANGAN KU

Aku berlari-lari kepemakamanmu Eyang Haji Zarkasih dan Haji Idris.
Menangis tersedu-sedu di situ.
Menangis tersedu-sedu …
Menangis tersedu-sedu …
Aku lumpuh !!!

Cibaduyut, 26 April 1994.

Santri

Catatan :
● Sekitar 2 tahun kemudian, aku baru tahu, dijalan sebelah kiri mesjid ada sebuah bangunan perumahan yang bertuliskan “Pesantren Al-Rosyid”. Sedangkan aku biasanya, lewat jalan sebelah kanan Mesjid jika aku mau sholat.
● Beberapa tahun kemudian. Tanah Peaantren dipakai untuk jalan ke perumahan “Singgasana Pradana”. Sebagai gantinya, perumahan Singgasana Pradana membuatkan bangunan, ditanah kosong sebelah komplek pekuburan itu. Bangunan ini digunakan untuk sekolah TK.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of