“Sino – Vietnam War of 1979”

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on tumblr
Share on email
Share on whatsapp

Sementara pasukan Komunis RRC yang digadang-gadang hebat, bersenjata lengkap, apalagi pernah menghajar pasukan pimpinan panglima yang sangat legendaris, Jendral MacArthur, di Korea pada awal Dekade 1950an, ternyata dikalahkan oleh pasukan Komunis Vietnam yang jumlahnya hanya separuhnya saja.

Acad Syahrial

Pada 17 Februari 1979, sekitar 320.000 pasukan Komunis RRC (PLA) menyerbu provinsi-provinsi di Utara Vietnam dalam strategi “two prongs attack”, yaitu:
(1). Jendral Xu Shiyou, menyerang provinsi di sebelah Barat, yaitu: Cao Bằng, Lạng Sơn, dan Quảng Ninh.
(2). Jendral Yang Dezhi, menyerang provinsi di sebelah Timur, yaitu: Ha Tuyen, Hoang Lien Son, dan Lai Châu.

Mengapa Komunis RRC menyerang Komunis Vietnam, padahal sama-sama Komunis?

Akarnya dimulai dari semenjak kematian Joseph Stalin tahun 1953, pemimpin Komunis RRC, Mao Zedong, menganggap pemimpin USSR (Soviet) pengganti Stalin tidak kâffah, tidak becus, bahkan sudah menyimpang kekomunisan (Marxisme – Leninisme)nya. Bahkan setelah kematian Mao Zedong pada 1976, Deng Xiaoping malahan bekerjasama dengan Amrik melawan Soviet.

Gong dari permusuhan itu adalah ketika Komunis Vietnam pada 25 Desember 1978 menyerang rezim Komunis Khmer Rouge-nya Pol Pot di Kamboja. Pada 7 Januari 1979, tentara Komunis Vietnam berhasil merebut Phnom Penh, sehingga Pol Pot dan Khmer Rouge-nya terusir dan hanya menjadi pasukan guerilla kapiran saja di bagian Barat Kamboja.

Komunis RRC tidak terima rezim Komunis Khmer Rouge yang merupakan proxy-nya terusir begitu saja akibat invasi oleh pasukan Komunis Vietnam (yang merupakan proxy Soviet). Maka Komunis RRC pun melakukan invasi ke Vietnam sebagai “punitive action” dengan harapan Komunis Vietnam menarik pasukannya dari Kamboja.

Vietnam, ketika itu dipimpin oleh Lê Duẩn, tidak takut menghadapi invasi Komunis RRC, padahal Vietnam ketika itu cuma punya 70.000 pasukan saja (ditambah sekitar 100.000 milisi ex-Vietcong).

Tidak ada Lê Duẩn mencoba menenang-nenangkan rakyatnya dengan mengatakan bahwa Komunis RRC itu adalah “sahabat”, padahal sama-sama Komunis. Tidak ada pula Lê Duẩn membohongi rakyatnya dan memerintahkan supaya tidak gaduh agar investasi Komunis RRC ke Vietnam jangan sampai terganggu.

Baca Juga:   Semuanya Berawal Dari Sudut Pandang

Lê Duẩn ternyata bernyali besar dan malah memerintahkan Jendral Văn Tiến Dũng (panglima tentara Vietnam dan top military strategist) untuk melawan invasi Komunis RRC itu mati-matian.

Alhasil, walau pasukan Komunis Vietnam diperkirakan tewas sekitar 30.000 orang, dan terluka sekitar 35.000 orang), pada 16 Maret 1979, pasukan Komunis RRC mundur dari wilayah Vietnam.

Mundurnya pasukan Komunis RRC itu menurut RRC karena misi punitive action itu “sudah tercapai”.

Benarkah begitu?

Well…

Pasukan Komunis Vietnam baru ditarik dari Kamboja pada 26 September 1989, atau 10 tahun 9 bulan dari semenjak Vietnam menginvasi Kamboja.

Sementara pasukan Komunis RRC yang digadang-gadang hebat, bersenjata lengkap, apalagi pernah menghajar pasukan pimpinan panglima yang sangat legendaris, Jendral MacArthur, di Korea pada awal Dekade 1950an, ternyata dikalahkan oleh pasukan Komunis Vietnam yang jumlahnya hanya separuhnya saja.

So, nilai saja sendiri siapa yang kalah?

Begitulah kisah David vs Goliath di 40 tahun lalu…

Popular Post

Random Post

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of