Selamat Berpulang, Mbah Moen

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on tumblr
Share on email
Share on whatsapp

Iramawati Oemar

Oleh : Iramawati Oemar

Berpulang ke kampung halaman yang kekal abadi, di waktu yang baik, hari yang baik, tempat terbaik dan dilepas orang-orang terbaik pula, itulah keadaan yang dialami Mbah Maemoen Zubair, seorang ulama sepuh yang petuahnya banyak diikuti. Betapa tidak, beliau berpulang ke rahmatLlah kemarin jelang Subuh, di hari Senin, hari yang baik, hari kelahiran Rasulullah Muhammad SAW, pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Dalam keadaan sedang berhaji, meskipun belum sempat menjalani wuquf di Arofah yang tinggal beberapa hari lagi, tapi insyaa Allah sang Khaliq sudah mencatat niat ibadah beliau. Kyai Maemoen Zubair menemui Robb-nya saat berada di kota suci Mekkah, kota tempatnya menuntut ilmu agama disaat usianya 21 tahun. Jenazahnya disholatkan di Masjidil Haram, tentu ratusan ribu bahkan jutaan calon jamaah haji ikut mensholatkannya. Terakhir, dimakamkan di dekat makam Sayyidah Khodijah radhiallahu anha, istri Rasulullah, ummahatul mukminin.
Sungguh suatu kematian yang indah, penuh dengan kebaikan. Kematian yang Allah pilihkan bagi hamba-hambaNya yang terpilih.

Salah satu stasiun TV swasta memberitakan kematian beliau dengan narasi “Kyai yang biasa dimintai doa para politisi itu kini sudah berpulang. Tidak ada lagi yang bisa mendoakan politisi.”
Saya tercenung mendengar kalimatnya. Kemudian bertanya dalam hati : “adakah para politisi yang dulu meminta doanya, kini mendoakannya?”
Mendoakan dengan sungguh-sungguh, secara khusus menunaikan sholat ghoib bagi beliau, misalnya.

Ada petuah terakhir beliau yang meminta agar ummat Islam menghornati para habaib, karena ada darah Rasulullah mengalir disana. Bahkan khusus untuk HRS, Mbah Moen menyebutnya “wali”, sebab tidak ada yang bisa mendatangkan 7 juta orang — sekaligus, diwaktu dan tempat yang sama – kalau bukan wali. Dan ternyata, di akhir hayatnya, yang mengantar beliau ke peristirahatan terakhir adalah para Habaib. Yang menjadi imam sholat jenazahnya, yang membacakan doa untuknya, sampai yang membacakan talqin saat beliau dimasukkan ke liang lahat adalah para Habaib. Sungguh kematiannya dikelilingi oleh orang-orang yang dicintainya.

Baca Juga:   IMAM BESAR YANG "MENAKUTKAN"

Semasa hidupnya Mbah Moen selalu dikelilingi para politisi yang ingin mendapat “berkah” atas kharisma keulamaan beliau. “Restu” Mbah Moen seolah “stempel” bagi politisi. Meskipun Mbah Moen sejatinya belum tentu berkubu kesana kemari. Yang “membisiki” beliau lah yang berusaha mencitrakan bahwa Mbah Moen mendukung si Anu, si Fulan, dsb.
Bahkan beberapa bulan lalu viral video Mbah Moen berdoa yang dianggap salah sebut nama, yang kemudian dikenal dengan “doa yang tertukar”.

Ternyata, di akhir hayatnya Allah mentakdirkan Mbah Moen tidak dikelilingi bahkan dijauhkan dari para politisi. Tempat berpulangnya jauh dari tanah air, sehingga tak ada yang bisa memanfaatkan moment kematian/pemakamannya untuk jadi obyek pencitraan politik.
Beliau dikelilingi oleh orang-orang yang dicintai dan dimulyakannya : para Habaib.

Kematian Mbah Moen seperti menjadi ibrah, ulama selama ini hanya dimintai restunya di saat hiruk pikuk perhelatan politik, namun kemudian sepi, ditinggalkan, saat perhelatan itu telah usai. Para politisi meminta doa dan restunya sebagai simbol dukungan, namun adakah sebaliknya??

Semoga saja tidak demikian halnya dengan fenomena di negeri ini. Dahulu ramai orang dan politisi menunggu ijtima’ ulama karena berharap dukungan, seakan ijtima’ ulama adalah simbol legitimasi. Namun kini ramai-ramai pula tidak mendukung bahkan mencela ijtima’ ulama, karena hasilnya tidak sesuai yang diinginkan. Padahal sejatinya para ulama memang haruslah berani mengatakan bahwa kekuasaan yang dilandasi kecurangan dan kedzaliman tidak patut didukung, dan memang selayaknya para ulama mengambil jarak dengan kekuasaan.

Seharusnya ulama bisa bersikap seperti Mbah Moen : siapa saja datang diterima, minta doa didoakan, namun beliau tidak pernah datang dan meminta balasan/imbalan kepada politisi. Seperti juga pesan Ustadz Abdul Somad, agar ulama janganlah diundang mendatangi istana, biarkan mereka di medan dakwah bersama ummat. Ulama memang seharusnya mengambil posisi sebagai OPOSISI terhadap kekuasaan, agar tetap bisa menyuarakan kebenaran, bukan membenarkan apa yang disuarakan kekuasaan.

Baca Juga:   Serial Kafe Klandestin: Lomba Mati Lampu

Mbah Moen adalah suri tauladan bagi ummat Islam Indonesia saat ini. Meski selalu didatangi politisi, namun beliau tetap menjaga jarak dengan kekuasaan, sehingga tidak bisa dimanfaatkan untuk menjadi pembenar kekuasaan.
Dan, Allah telah memuliakannya di akhir hayat beliau. Selamat jalan Mbah Moen, insyaa Allah jannah lah tempatmu, aamiin…

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Leni m Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Leni m
Guest
Leni m

Tulisan yg sangat bagus, betul2 penomena yg pas dgn intima ulama yg banyak d cinir dan d abaikan padahal d tunggu2 tp keputusan nya g sesuai harapan sebagian orang, untuk kedepan nta jgn lg para ulama ikut menentukan seorang calon presiden klo kurang jelas visi misi nya dgn islam
Dan sungguh2 orang yg taat dlm beramal.marup nahi mungkar

[COVID19 confirmed_title="Cases" deaths_title="Deaths" recovered_title="Recovered"]
%d bloggers like this: