bahtera

Rumahmu Bukan Tangganya

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on tumblr
Share on email
Share on whatsapp

Maka, saksikan saja. Dengarkan saja. Do'akan saja apapun cerita tangga dari rumah mereka. Tak ada kepantasan aku dan kalian untuk menyelaminya, terlebih bersenyawa dengan kisah yang kau pahami cuma sekulit.

Yanto Hendrawan

Tahukah kau batas keberhasilan berumah tangga itu ada dimana? Tak ada! Ia tak punya batas. Ia bisa kandas sebelum ajalmu lepas. Ia tak punya salam sebelum namamu terukir di nisan hitam dan ia tak disebut puncak, karena puncaknya ada di perjalanannya sendiri, bukan diujungnya.

Jadi? Apa batasnya? Mana ujungnya? Tak ada. Batasnya adalah ajal pada salah satunya. Maka, khatamnya adalah kematian. Berhentinya kisah hati menyulam rajutan asmara di lembar penghabisan. Tamatnya romansa petang yang berpenggal di usianya yang telah matang.

Lalu siapalah engkau yang belum mampu mencapai batas itu sudah lancang menyelami rumah tangga orang? Siapalah dirimu yang mungkin masih bersemak ricuh, berbelukar kisruh tapi sudah berani berkisah sawah indah nan aduhai pada mereka? Bernasehat petualang padahal belum juga pulang.

Aku sungguh tak berani bicara pernikahan siapapun dalam-dalam. Apalagi jika ia seorang guru. Pastilah ia jauh lebih bijak dan arif mengurus mahligai jiwanya. Khazanah ilmunya belum terjangkau. Pasti bukan karena ia tak mampu membina, tetapi ada hal lain yang melewati batasnya sebagai manusia. Apa? Entah dan cukup entah bagi kita.

Tak ada puncak tangga di rumah tangga. Tak ada warna warni terbaik dalam lukisan hati dua sejoli. Lebihpun dari itu, apalagi. Semua bisa indah di lensa kacamata pemiliknya. Dapat sangat rupawan kata perintisnya. Akhirnya jutaan rumah tangga adalah air hujan yang dingin pada kulit penikmatnya, atau petir yang tiada henti. Kenapa? Entah dan cukup entah saja.

Maka, saksikan saja. Dengarkan saja. Do’akan saja apapun cerita tangga dari rumah mereka. Tak ada kepantasan aku dan kalian untuk menyelaminya, terlebih bersenyawa dengan kisah yang kau pahami cuma sekulit.

Baca Juga:   FACEBONG

Hidari dan jangan coba menabrak. Kecuali engkau mewakil tugas Tuhan yang mempersatukan. Atau kau adalah juara dari kisah cinta tiada akhir yang berhasil bangkit dari makam yang selalu disambangi kekasihmu dalam lara kepergianmu.

Akupun belajar jika itu engkau!

Salam Hangat

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
[COVID19 confirmed_title="Cases" deaths_title="Deaths" recovered_title="Recovered"]
%d bloggers like this: