Persekusi Banser & Persekusi UAS

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on tumblr
Share on email
Share on whatsapp

Jadi, persekusi tergantung bunyi ancamannya. Kalau mengancam agar mengucapkan takbir, itu persekusi. Kalau mengancam agar setia pada NKRI, itu bukan perseskusi. Tau ah gelaaaap.

Balya Nur
Persekusi

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. ( QS Ali Imron, ayat 103 )

Persekusi terhadap Banser yang disiarkan oleh pelakunya menunjukan ada suatu pesan yang ingin disampaikan oleh pelakunya. Tentu saja sulit menduga apa yang ada dalam pikiran pelakunya. Saya cuma bisa menduga.

Pelaku ingin menguji keberaniannya. Kan ada dua kemungkinan. Dua anggota banser itu melawan pelaku yang konon seorang diri atau bisa jadi juga sama-sama berdua. Banser berseragam, sedangkan pelaku nggak jelas dari kelompok mana karena tidak pakai seragam ormas. Padahal kalau terjadi perlawanan dan jadi duel seimbang, siapa pun pemenangnya, maka tentu saja yang diperskusi dan berseragam akan jadi “korban.”

Dampaknya juga bisa luar biasa. Akan ada pembelahan. Ada yang pro Banser, ada yang pro lawannya. Walaupun tidak berseragam ormas, pasti akan dikaitkan dengan ormas tertentu yang selama ini bersteru seperti api dalam sekam.
Kemungkinan akan dikaitkan dengan rasa ketidak adilan terhadap penanganan kasus penghina Nabi Muhammad SAW yang semakin tidak jelas arahnya. Dalam kasus penghinaan terhadap Nabi kan sudah terjadi pembelahan juga. Di satu sisi ada yang pro penistaan, ada yang anti penistaan. Ada juga yang netral, dalam pengertian mengutuk penistaan, tapi menolak jika masuk ranah hukum.Cukup dimaafkan. Dan dugaan saya, persekusi terhadap Banser ini bias dari akibat memanasnya kasus penistaan Nabi yang tak kunjung jelas. Tapi bisa juga pelaku persekusi memanfaatkan situasi itu untuk tujuan entah apa.

Baca Juga:   Mari Bantu Jokowi Membaca Pesan Moral

Dalam video persekusi terhadap Banser itu ada pemaksaan ucapan takbir. Tapi juga sekaligus dibumbui dengan kata-kata kotor. Sampai disini malah semakin nggak jelas tujuan pelaku. Barangkali bagi anggota Banser itu bukan soal enggan mengucapkan takbir, tapi mengucapkan takbir karena paksaan tentu akan berdampak pada kewibawaan organisasinya. Apalagi selama ini yang kerap mengucapkan takbir adalah ormas seterunya. Pokoknya kebiasaan seteru jangan ditiru, walaupun itu baik-baik saja.

Seperti halnya dua kalimat syahadat tentu ucapan yang sangat baik. Tapi karena seterunya bukan hanya mengucapkan tapi juga menulis di bendera, maka itu sudah jadi identitas seterunya yang harus dihindari. Bukan soal suka atau tidak suka pada dua kalimat syahadat.

Polisi yang cepat merespon persekusi ini tidak mengherankan. Kalau tidak cepat ditangani maka akan meluas menjadi bentrokan horizontal. Akan semakin sulit mendamaikan, dan bukan mustahil akan banyak jatuh korban sia-sia.

Kalau terjadi bentrokan fisik, maka yang terjadi adalah, yang menang jadi arang yang kalah jadi abu. Dan yang bersorak adalah “atlet lompat pagar” yang sekarang ini seolah berada di satu kubu. Padahal mah mereka memang sengaja ingin agar kedua kubu yang sama-sama muslim bentrok hingga berdarah-darah.

Ditambah, kita ini sedang krisis juru damai hingga sulit mengamalkan surah Al Hujurat ayat 10, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”

Disebut persekusi karena media menyebutnya seperti itu. Padahal kalau dilihat videonya, pelaku hanya seorang atau mungkin dua orang, mengancam dua anggota Banser berseragam. Banser selama ini kan dikenal sebagai garda terdepan pembela NKRI sampai titik darah penghabisan. Bagaimana mungkin bisa diancam oleh seorang yang tidak jelas? Nilai seragam Banser saja bisa dimaknai jumlah berkali lipat jumlah pengancamnya?

Baca Juga:   Mayoritas yang Minoritas

Beda dengan persekusi yang dialami oleh UAS, di Hotel Aston Gatsu, Denpasar, Bali pada 8 Desember 2017 duluuuuu. Sekelompok gerombolan ormas yang menyuarakan pembelaan NKRI harga mati, pembela pancasila, ada yang menggunakan senjata tajam, berteriak-teriak mengepung tempat UAS menginap. Lalu memaksa UAS bersumpah setia pada NKRI.

Sama halnya dengan dua banser yang menolak dipaksa mengucapkan takbir, UAS juga menolak mengucapkan sumpah setia pada NKRI.Bukan karena UAS tidak setia pada pancasila dan NKRI, karena selama perjalanan hidupnya, UAS telah membela NKRI dan mengamalkan pancasila dengan caranya sendiri, berbeda dengan cara para tukang persekusi itu.

Selama ini UAS secara terjadwal mendatangi daerah pedalaman yang sulit dijangkau oleh kendaraan, mengajarkan anak-anak pedalaman agar cinta tanah air. Berbeda dengan tukang persekusi yang bisanya cuma teriak-teriak di media sosial.

Persekusi keroyokan itu pun banyak pihak yang menolak kalau itu disebut persekusi. Mereka menyebutnya sebagai pencegahan terhadap radikalisme, menumbuhkan rasa nasionalisme. Nah, karena sudah menyangkut para “pembela nasionalisme” maka kasusnya sengaja dihilangkan begitu saja, dimakan oleh waktu.

Setahun kemudian UAS mendapat kabar, salah satu persekutor yang membawa tombak, ditangkap dengan tangan dan kaki terbogol. Tapi ternyata dia ditangkap dalam kasus lain, bukan kasus persekusi terhadap UAS.

Jadi, persekusi tergantung bunyi ancamannya. Kalau mengancam agar mengucapkan takbir, itu persekusi. Kalau mengancam agar setia pada NKRI, itu bukan perseskusi. Tau ah gelaaaap.

12122019
-Balya Nur

Popular Post

Random Post

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of