Pak Agus, Kalau Begitu Pak Jokowi Terpapar Radikalisme Dong?

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on tumblr
Share on email
Share on whatsapp

Balya Nur

Letnan Jenderal TNI (Purn) Agus Widjojo ,Gubernur Lemhannas RI diwawancarai oleh Deddy Corbuzier untuk chanel Youtube Deddy Corbuzier. ( Link: https://youtu.be/J7pVW4PJaNQ ) Temanya soal apalagi kalau bukan radikalisme, tema yang belakangan ini sangat digandurungi Presiden Jokowi. Pokoknya kemana arah angin kegandrungan Presiden, kesanalah para pejabat mencari perhatian.

Dari mulai Wapres, Menag, Menkopolhukam, Mendagri, Gubernur Lemhannas hampir setiap hari secara bergantian melantunkan isu radiklisme ke hadapan publik. Lho, radikalisme kan bukan isu, tapi fakta. Begitu kesimpulan Deddy setelah sebelumnya dalam wawancara full, Pak Agus memberi contoh seekor katak yang dipindahkan dari satu jenis air ke jenis air lain. Soal kenapa Pak Agus mengambil contoh katak, entahlah.

Tapi ketika radikalisme itu dianggap fakta, Pak Agus juga meragukan sendiri ucapannya. Karena semua informasi yang Pak Agus terima berdasarkan katanya katanya katanya. Bukan cuma Pak Agus. Tanya saja sama Wapres yang bilang, PAUD terpapar radikalisme. Tanya dimana? Seperti apa? Pasti jawabnya, katanya dari katanya dari katanya… Kalau “Sanadnya” jelas mah nggak masalah. Katanya katanya ini dari orang yang dia nggak tahu juga asal usulnya.

Tapi untuk lebih meyakinkan “ sanad” katanya katanya itu, Pak Agus bermain aman. Dia mengaku mendapat info dari saudaranya. Entahlah sudara yang mana. Percaya sajalah. Kata saudaranya yang juga dapat info dari katanya katanya, ada murid TK yang tidak mau bercipika cipiki dengan bibinya karena bukan “Muhrim.” (Barangkali maksudnya bukan mahram )

Kalau Versi Pak Mahfud beda lagi. Bukan anak TK tapi anak SD. Pokoknya setiap pejabat beda versi lah tergantung kata siapa dari katanya katanya siapa.

Sekarang kita uji. Kalau memang ada sekolah yang mengajarakan seperti itu, pasti kalau nggak sumbernya Pak Agus berbohong, Pak Mahfud juga punya sumber yang tak kalah bohongnya. Ketika Deddy bertanya, “ kenapa? “ Pak Agus menjawab, “ karena dianggap bukan muhrim.” Pak Agus nggak bisa bedain mahram dan muhrim. Soal makna Muhrim biarlah Pak Agus cari tahu sendiri. Biar nambah ilmu dikit. Tentu yang dimaksud adalah bukan Mahram.

Baca Juga:   Rakyat Perlu Kerja Pranikah, Bukan Kursus Pranikah

Pertanyaan berikutnya, apakah Bibi baik dari jalur ayah atau jalur ibu masuk dalam kategori bukan mahram? Tidak! Bibi masuk ketegori Mahram. Berarti boleh dong cipika cipiki dengan Bibi. Dari sini saja sudah ketahuan kalau cerita katanya katanya itu bohong.

Katanya-katanya berikutnya soal kofar kafir. Katanya anak TK sudah pandai mengucapkan kata Kafir. Salahnya dimana? Dari dulu sebelum ribut soal radikalisme, anak TK sudah diajarkan menghafal surah-surah pendek dari Juz ‘Amma ( Al-Qur’an Juz 30. ) Salah satunya surah Al Kafirun beserta artinya. Bahkan dulu sejak narasinya masih hanya soal toleransi, surah Al-Ikhlash beserta maknanya yang diajarkan kepada anak-anak TK dianggap sebagai ajaran intoleran.

Kalau mau tegas, berani nggak pemerintah melarang anak TK menghafal surah Al-Kafirun dan Al-Ikhlash beserta artinya? Kalau nggak berani jangan terus-terusan menuduh TK , apa lagi PAUD mengajarkan radikalisme. Atau kalau bukan kedua soal kedua surah itu, jelaskan lebih rinci apa yang diajarkan? Walaupun nggak yakin juga pemerintah bisa menjawab. Kan pemerintah seperti tercermin dari wawancara Pak Agus ini, semuanya berdasarkan katanya katanya katanya.

Saking “ Nafsunya” ingin membuktikan kalau TK telah terpapar radikalisme, Pak Agus memberi contoh berita yang beredar di media soal anak TK yang ikut baris berbaris dengan busana kearaban dan memakai senjata mainanan. Tentu saja maksudnya kasus TK Kartika V-69 yang dulu viral itu.

Lho? Itu kan sudah diklarifikasi oleh Mendikbud berdasarkan hasil tabayunnya ke TK tersebut. Hasilnya, Tidak ada ajaran Radikalisme di TK yang terletak di dalam area Makodim 0820 Probolinggo itu. Foto dan video yang beredar adalah hasil potongan Video yang diduga sengaja diedit untuk menyudutkan TK itu dan tentu saja bikin suasana gaduh. Sekarang Pak Mendikbudnya sudah jadi Menko. Tapi Pak Agus masih saja terus menggoreng isu TK itu. Move on, Pak. Mupon.

Baca Juga:   Lem Aibon: Kenapa Kalian Makin Sinting?

Kalau yang satu ini bukan katanya-katanya, tapi menurut Pak Agus dia mengalami sendiri. Menurut Pak Agus, “ Dulu itu kalau kita mengadakan seminar, selama ada azan . Mungkin kedengaran, mungkin tidak kedengaran dalam satu komplek ya. Itu seminar jalan terus. Tapi sekarang di tengah disksusi, ada azan, itu kemudian dihentikan diskusi itu.Hening. Sampai azan itu selesai.”

Karena pembicaraan ini temanya radikalisme, kok menghormati suara azan dianggap sebagai terpapar radikalisme?

Tapi sikap terpapar radikalisme ini sayangnya malah menjadi senjata makan boss besar.
-Bulan Januari 2019, dalam acara ultah PDIP, Presiden Jokowi menghentikan Pidatonya saat terdengar AZAN ZUHUR. berkumandang.
-Bulan September 2019, Pak Jokowi menghentikan sambutanya dalam acara Temu Nasional Kongres Wanita Indonesia ke-90 dan Sidang Umum International Council of Woman (ICW) ke-35, Yogyakarta saat terdengar suara AZAN ASAR.
-Bulan Juni 2019, Presiden Jokowi akan mengucapkan kata sambutan pada upacara pemakaman almarhumah Ibu Ani Yudhoyono. Terdengar kumandang AZAN ASAR. Presiden Jokowi berhenti sebentar. Mendengarkan suara azan dengan khusu, setelah selesai azan, dia melanjutkan sambutannya.

Bukan hanya Presiden Jokowi yang berbuat demikian. Anies Baswedan juga. KH. Maruf Amin juga. Prabowo juga. Tapi cukup presiden lah buat jadi contoh. Pertanyaan buat Pak Agus. Apakah Jokowi terpapar radikalisme? Kalau tidak, berarti aparat sipil maupun militer “terpapar” oleh sikap Presiden yang menghormati azan, bukan terpapar radikalisme. Malah bagus, kan? Buruknya dimana? Berapa lama sih kumandang azan terdekat?

Versi Pak Mahfud beda lagi. Dia bercerita agak lebay. Dalam satu rapat instansi pemerintah, saat terdengar suara azan, para pegawai meninggalkan rapat begitu saja. Pernyataan Pak Mahfud di sebuah televisi Ini memamg rada aneh. Masa sih anak buah bisa nekad kaya gitu? Kalau pun benar, ya tetap saja bukan terpapar radikalisme, tapi soal displin dan etika.

Baca Juga:   ANTARA NASI GORENG TEUKU UMAR DAN NASI KEBULI GONDANGDIA VS RESTU HRS

Pak Agus menyadari, bahwa menghormati suara azan adalah bagian dari ajaran islam. Maka menurut Pak Agus, untuk melawan radikalisme yang menggunakan dalil agama, ya harus orang yang paham dalam bidangnya, dalam hal ini ulama.

Cuma begini, Pak Agus. Mau siapa pun ulamanya, apa pun ormasnya, dalam hal menghormati suara azan ya sama saja. Nggak ada yang beda. Pasti Pak Jokowi ngikutin NU lah. Nah, kalau Pak Agus mau “melawan” suara azan, mau pakai ulama yang mana? Abu Janda barangkali pendapatnya beda.

07122019
-Balya Nur

Popular Post

Random Post

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of