Menunggu Kemurahan Hati Mas Anies

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on tumblr
Share on email
Share on whatsapp

Maya Amhar

Catatan Maya Amhar

Jarak rumahku yang cukup jauh dari stasiun kereta, membuat aku jarang menggunakan kereta sebagai alat transportasi umum perkotaan. Kecuali kalau aku kearah Bogor atau Tangerang dan Bekasi, dimana lokasi yang aku tuju dekat dengan stasiun Kereta.
Kalaupun menggunakan kereta, paling aku transit di Manggarai, untuk menyambung lagi ke arah Bekasi. Sangat jarang sampai ke Stasiun Kota.

Hari itu, aku dari Bekasi mau lanjut ke Kampung Aquarium. Aku naik Kereta sampai ke Kota.
Biasanya, aku sholat di Taman Bawah penyeberangan, halte Bus way Kota. Tapi hari itu, aku memutuskan sholat di Stasiun Kereta saja.

Aku bersegera menuju toilet yang juga berfungsi sebagai tempat wudhu dan mulai berwudhu. Ketika aku berkumur-kumur, alangkah kagetnya, air krannya sangat asin dan juga terasa pahit dilidah, saking asinnya.
Aku masih melanjutkan wudhuku.
Ketika mencuci muka, aku lebih kaget lagi. Air kran untuk wudhu yang asin itu, terasa perih kena mata.
Aku hentikan wudhunya dan bersegera mencari tisue kedalam tas.
Setelah aku menghapus air yg ada dimuka dengan tisue, aku bertanya sama petugas jaga toiletnya,
” Mbak, ini memang tempat berwudhu ya mbak ?”
“Iya bu”
“Kok airnya asin banget mbak? Apa gak ada lagi tempat wudhu yang lain, yang airnya tawar ?”
“Memang airnya asin bu”.

Aku putuskan untuk membatalkan sholat di Stasiun Kereta Kota ini. Lebih baik aku sholat di taman bawah penyeberangan Halte Bus way. Disana airnya tawar. Padahal hanya berjarak sekitar 50m dari stasiun Kereta.

Waktu acara Presentasi design rumah dari kontainer oleh Caleg Gerindra Rahayu Saraswati di Kampung Aquarium, yang dihadiri juga oleh Mas Anies.
Seusai acara, aku minta waktu Mas Anies untuk bicara,
“Silahkan “. Kata Mas Anies.
” Mas Anies. Air untuk wudhu di stasiun Kereta Kota sangat asin. Sedangkan tidak berapa jauh dari stasiun Kota yaitu taman bawah Halte bus way Kota, ada Mushola dan air wudhunya tawar”.
“Oh ya … ??”.
“Betul Mas, aku sudah tanya kepenjaga disana, katanya, dulu air dibawah itu juga asin! Tapi kemudian sumur pompanya diperdalam sampai ketemu air tawar”.
“Oh begitu ya solusinya?”
“Betul Mas”.
“Terima kasih infonya bu”. Jawab mas Anies, sambil menyalamiku. Lalu mobil mas Anies dan rombongan, berlalu meninggalkan kami.

Baca Juga:   Anies Selow dan Cerdas, Hatersnya Emosional dan Konyol

Enam bulan setelah peristiwa itu. Aku sengaja datang kembali ke stasiun Kereta Kota, untuk memeriksa air untuk wudhu distasiun itu. Ternyata masih asin.
Aku baru sadar, stasiun kereta Kota ini dibawah KAI. Kebijaksanaan, pengelolaan dan keputusannya berasal dari KAI bukan dari Pemprov DKI.
Aku sangat berharap, air untuk berwudhu diatasiun Kota ini tidak asin lagi.

Semoga Mas Anies sebagai Gubernur Jakarta, dimana Stasiun Kota ada diwilayah kekuasaannya. Mau bermurah hati untuk memberikan kami air tawar untuk wudhu di stasiun Kota Jakarta.
Aamiin yaa Rabbal’alamin.

Popular Post

Random Post

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of