LORENG YANG KAMI BANGGAKAN

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on tumblr
Share on email
Share on whatsapp

Samara Samarani

seorang polisi atas nama Briptu Hedar disandera oleh sekelompok orang tidak dikenal di Kampung Usir, Kabupaten Puncak, Papua. peristiwa itu terjadi pada hari Senin (12/8/2019) sekitar pukul 11.00 WIT.

Briptu hedar sedang berpatroli menggunakan sepeda motor dengan temannya, sesasat ada yang memanggil dirinya dan ia pun menghampiri. Namun, saat ia mendekat pada pihak yang memanggil, muncul beberapa orang bersenjata dan membawanya.

Pukul 17.20, Briptu Hedar di temukan tidak bernyawa dengan luka tembak di bagian kepala dan lehernya.

Kematian Brptu hedar, menambah panjang daftar aparat yang menemui ajal di papua. Konflik antara OPM dan pemerintah Indonesia Sudah berlangsung panas sejak tahun 2014 hingga saat ini. Sudah satu periode jokowi memimpin, namun belum ada titik terang atas konflik ini. Entah apa yang ia pikirkan, sampai-sampai harus mengorbankan banyak aparat yang menjadi tumbal.

OPM adalah gambaran sesungguhnya Radikal dan terorisme. Bahkan Menhan Ryamizard Ryacudu menilai TPNPB-OPM sebagai “pemberontak” sehingga pemerintah Indonesia harus menumpasnya. Di tanah papua, sudah terbukti ada kelompok Radikal, Teroris dan Pemberontak. Namun, para penjaga NKRI malah sibuk membuat tuduhan di luar papua dengan telunjuk bebas menghakimi pihak-pihak yang tidak sama dengan mereka.

Dian Ambarwati* seorang penulis di kolom republika mengatakan,

“OPM adalah potret nyata radikalisme dan terorisme dimana Gerakan Papua Merdeka terus merongrong negeri ini. Gerakan sparatisme yang menggunakan kekerasan dan tak henti-henti nya terus menelan korban. Inilah ancaman nyata bagi Indonesia.”

Dan yang lebih mirisnya lagi istilah radikalisme dan terorisme justru disematkan pada ormas-ormas Islam yang tak pernah melakukan kekerasan, teror maupun gerakan sparatisme. Inilah keterbalikan logika, dimana istilah radikalisme menjadi suatu istilah relatif yang di gunakan sesuai kepentingan.

Disilah penting nya masyarakat untuk memahami apa itu sebenar nya radikalisme agar masyarakat tidak sembarangan menempatkan istilah tersebut, apalagi menyematkan istilah radikalisme pada simbol-simbol, identitas dan ormas-ormas islam karena ini sangat berbahaya.

Hal ini dapat memandulkan pola pikir dan logika, sehingga masyarakat menempatkan istilah radikalisme pada sesuatu hal yang justru fakta nya tak dapat di raba dan di lain sisi mengabaikan fakta dan wujud sebenar nya dari radikalisme dan terorisme itu sendiri. *)

Baca Juga:   Koalisi Lagibete Versus Jagung

Saat ini, memang sungguh luar biasa pengalihan masalah yang di lakukan oleh oknum-oknum yang mengatakan Penjaga NKRI. Pembiaran yang di lakukan pemerintah, seolah membuktikan adanya perlindungan bagi mereka yang bebas melakukan tuduhan sepihak tentang kata radikal dan Terorisme.

Jika ancaman nyata itu sudah melakukan aksinya dengan pembunuhan dan penyiksaan pada aparat negara, mengapa para penjaga NKRI kualitas KW itu tidak berangkat ke papua membuktikan sumpah mereka menjaga NKRI dari ancaman yang menganggu?

Ansor dan Banser layak di ikutkan dalam tugas menjaga negeri seperti apa keinginan mereka yang selalu di teriakkan. Jika mereka pandai memaknai apa arti baju loreng, maka wilayah juang mereka bukanlah di pasar, di kota atau di atas panggung dangdutan.

Memilih baju loreng layaknya tentara Indonesia, apakah mereka paham artinya?

Baju loreng itu mempunyai sejarah kemunculannya. Mengapa baju seragam militer Indonesia bermotif loreng hijau hitam bukan abu-abu atau cokelat seperti seragam militer negara lain. Karena pola tersebut sangat sesuai digunakan untuk berkamuflase (menyamarkan diri) dari musuh. Apalagi daerah di Indonesia yang cenderung hijau sehingga membuat pasukan militer mudah menyatu dengan medan yang dia tempati.

Dengan kata kunci penyamaran, Tidak mungkin apabila Banser ingin terlihat samar dengan baju loreng di tengah acara Felix Shiauw. Karena pasti warna loreng tersebut akan mencolok di tengah umat yang berbaju putih dan hitam. Jika ingin terlihat menyamar, tidak mungkin banser berada di tengah acara FPI dengan corak loreng mereka klarena pasukan FPI selalu menggunakan pakain putih. Jika ingin terlihat tersamar, tidak mungkin banser akan terkaburkan saat mengawasi acara ex HTI, karena pakaian mereka adalah hitam.

Lalu di mana lokasi sebenarnya bagi banser dengan baju loreng pucatnya?

Seperti hakekat baju loreng, maka tugas mereka adalah di medan pertempuran berkamuflase dengan hutan dan tumbuhan, saat negara terancam. Bukankah slogan mereka penjaga NKRI? Dimana Tni pun sudah melakukan hal itu dengan berada di garis depan.

Baca Juga:   Akankah Kerusuhan di Ekuador Menjalar ke Asia?

Jika memang mereka murni menjaga NKRI tanpa maksud dan tujuan terselubung, jika mereka merasa lebih dari orang lain dengan seragam loreng pucat itu, seharusnya kematian aparat di papua sudah membuat mereka mengajukan diri ke negara untuk di libatkan.

Mereka sudah melakukan latihan setiap hari, walaupun latihannya terkadang ada gerakan menari. Mereka sudah melakukan rekrutmen dengan pendidikan dasar ala TNI, walaupun terlihat mirip halang rintang anak Pramuka. Yel-yel mereka pun sangat sangar, walaupun terdengar seperti nyanyian anak PAUD ketika akan pulang.

Sudah sepatutnya mereka membuktikan diri dengan apa yang mereka persiapkan.

Namun sampai detik ini, tidak keluar satupun tanggapan dari ketua mereka mengenai kejadian di papua yang jelas sudah mengancam NKRI.

Di malang. Terjadi aksi demo berujung kerusuhan yang di lakukan mahasiwa papua. Lemparan batu dan pukulan di lakukan oleh kelompok papua tersebut, apakah ada banser yang terlihat di sana? Bukankah jawa timur adalah basis Banser?

https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4666814/mahasiswa-papua-rusuh-di-malang-warga-jadi-korban-lemparan-batu

Di surabaya, menurut berita CNN Indonesia terjadi perusakan pada bendera Merah putih di asrama papua. Dan massa dengan Pakaian FPI menggeruduk asrama mahasiwa papua. Apakah ada Banser yang menggeruduk kesana? Mengapa justru FPI yang di sana? FPi yang selalu kalian katakan Radikal justru hadir saat ada pelecehan pada bendera merah putih.

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190816181952-20-422091/asrama-papua-di-surabaya-digeruduk-massa-beratribut-fpi

Jelas apa yang di tunjukkan oleh oknum-oknum mahasiwa papua di jawa timur merupakan tindakan radikal dan anarkis. Sebagai yang katanya penjaga NKRI, dimana Banser saat konflik dekat dengan rumah mereka? Dimana baju loreng yang kalian banggakan hingga menepuk dada?

Kalian tidak pernah tampil di saat konflik benar-benar terjadi. Sebaliknya, justru kalian tampil saat menciptakan konflik di tengah umat dengan aksi yang di lakukan.

Penghadangan pengajian Felix Shiauw di berbagai tempat. Bangga kalian mengenakan loreng di tengah kota dan berteriak “TOLAK FELIX SHIAUW…!”. Penghakiman atas bendera tauhid dengan membakarnya, kalian pun bangga gunakan baju loreng di tengah kerumunan masyarakat.

Baca Juga:   Ketua BPIP: Dari Kesombongan Horizontal Menuju Kesombongan Vertikal

Salah tempat baju loreng yang kalian gunakan.

Jika hanya itu kebanggan loreng yang kalian pakai, mohon dengan sangat. Gantilah loreng itu dengan warna pelangi atau warna ungu. Biar terkesan kalian berwarna seperti slogan bersama yang kalian sebarkan.

Kembalikan Loreng ke habitatnya, tempatkan loreng sebagai warna tertinggi di antara warna yang kalian suka. Jika nyali kalian hanya seujung kuku memberantas ancaman negeri, jangan pernah gunakan loreng kebanggan TNI. Tak pantas baju loreng yang cara mendapatkannya oleh anggota TNI dengan pertaruhkan segalanya, namun di kalian baju itu terlihat rendahan. Hanya mengurusi masalah yang memancing keributan.

Memang tidak mungkin kalian akan ke papua, bisa mati konyol kalian di sana. Jika kalian meminta pun, tidak akan ada izin untuk kalian menuju kesana dari otoritas yang berwenang. Namun kami ingin melihat, muncul suara kalian mengenai konflik di papua. Pernyatan kalian yang mengecam dan bersedia jika di minta kesana.

Sudah adakah pernyataan itu sampai detik ini..?

17 agustus ini, di peringati hari kemerdekaan negara. Coba kalian merenung atas apa yang pernah kalian lakukan. Pernahkah kalian mendapatkan tepuk tangan dari seluruh negeri tanpa ada hujatan dan kecaman dari apa yang kalian lakukan? Jika belum ada , hendaknya kalian mulai mengukur diri dan berpatut di cermin. Tanggalkan baju loreng itu, gantilah dengan seragam dengan warna yang lain.

Baju loreng itu sangat tinggi nilainya. Jangan rendahkan baju loreng dengan penilaian pada tindakan yang pernah kalian lakukan. Mencintai dan menjaga NKRI sebagai rakyat sipil, tidak perlu berhalusinasi sebagai tentara yang Resmi. Berpakaian lusuh dan bekerja di sawah pun, sudah di anggap kau menjaga NKRI tanpa harus meneriakkannya setiap hari.

“Saat ini, Loreng yang kami banggakan hanyalah Loreng milik TNI. Bukan milik kalian…”

Bravo TNI
Bravo Polri
Doa Rakyat menyertai perjuangan kalian di daerah konflik.

MERDEKA…!!!

Pekanbaru, 17 Agustus 2019

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
[COVID19 confirmed_title="Cases" deaths_title="Deaths" recovered_title="Recovered"]
%d bloggers like this: