Zeng Wei Jian

Kenapa Banyak Orang Marah Dengan ZWJ

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on tumblr
Share on email
Share on whatsapp

Mohon maaf sebelumnya ya. Bahwa saya harus sampaikan 3 hal penting dalam fenomena ZWJ dalam beberapa hari ini. Anggap saja ini dakwah kecil atau mengambil ibroh dari resistensi orang dengan ZWJ.

Yanto Hendrawan

Sahabat..

Dulu saya sempat sering chat dengan dia. Satu grup WA, janjian, ketemu dan berfoto. Seperti biasalah, layaknya selebritis sosmed yang lagi naik daun. Semua orang mengagumi tulisannya. Dianggap banyak mengetahui politik dan strategi global plus berbahasa inggris pula yang menyelip di antara narasinya yang mungkin bagi sebagian orang membingungkan.

Makin sering pakai teks bule, makin meyakinkanlah si kokoh itu. Lalu dishare ribuan kali, diundang dalam pertemuan relawan dan pembekalan atau acara pemenangan PS. Itu di dunia nyatanya. Di dumaynya, rentetan komentar, inbox, kadang berdebat di posting, diajak nimbrung dengan memention untuk menghajar akun berudu, dll.

Begitulah di masa-masa kampanye waktu itu. ZWJ is rising star (hmm…pakai bahasa inggris nih..hehe)

Seiring berjalannya waktu, situasi politik berubah. Perhitungan hasil pilpres di luar ekspektasi. Hitung-hitung kekuatan 01-02 mulai beraroma tak sedap. Terjadi dualisme sikap untuk menentukan apakah harus mengambil langkah ekstrim atau smooth. Nah, disinilah cikal bakal terjadinya persimpangan sikap waktu itu. Diawali rekonsiliasi PS, menyeberangnya kaki ke rezim, menerima lamaran untuk bergabung di partai dan resmi dilantik.

Done!

Lukisan selesai. Apa yang dikuaskan, berbeda dari sketsa awalnya. Dukungan ex 02 juga terbelah. Sampai akhirnya pembelahan itu sempurna hingga hari ini.

Lalu bagaimana dengan ZWJ?

Mohon maaf sebelumnya ya. Izinkan saya menyampaikan 3 hal penting fenomena ZWJ dalam beberapa hari ini. Anggap saja ini dakwah kecil atau mengambil ibroh dari resistensi orang dengan ZWJ.

Saya katakan bahwa saya sudah memasang rasa kecewa atau mencukupkan harapan sejak awal. Secara tersirat kira-kira teksnya begini..

Selama kau memakai kopiah atau peci di kepalamu, selama kau memakai hijab dan kerudung penutup di kepalamu, selama itu pula masih kusisakan sedikit kepercayaan bahwa kalian tak akan mengecewakanku nantinya. Tapi jika itu tidak kudapati diawal, maka jangan harap aku akan memberi kepercayaan yang sebenarnya untukmu! InsyaAllah untuk soal ini sebagai muslim kita berpegang pada surat Al-Baqarah 120 dan meyakini kebenarannya.

Baca Juga:   Disanalah Aku Berdiri, Jadi Pandu Ibuku

Jadi, sejak awal sudah kupasang ketidakyakinanku pada seorang ZWJ. Maka jika hasilnya ia jadi seperti ini, tak ada sedikitpun kemarahanku dalam konteks pertemananku dengannya. Tak ada kekagetanku pada sikapnya ketika ia menulis teroris untuk muslim Uyghur di Cina. Semua akan menjadi keniscayaan. Bahwa sejatinya mereka memang seperti itu. Maka, bagaimana sikap ZWJ kini pada kita sebagai temannya dulu, begitulah representasi perilaku Cina pada muslim di Xinjiang saat ini. Sama kan?

Itu prinsip pertama.

Lalu yang kedua soal harapan. Orang banyak menitip harapan di diri ZWJ waktu itu. Makna harapan ini bukanlah harapan yang sifatnya dapat melindungi, pembela atau militan tulen sebagai pembawa kebenaran, bukan. Harapan itu maksudnya sebagai teman yang bisa dipercaya. Teman seperjuangan. Segandengan tangan untuk bersama berjuang menegakkan kebenaran. Saya ulang teks “teman yang bisa dipercaya”.

Kembali Al Quran kita menjadi rujukannya. Tepatnya di surah Ali Imran 118. Mungkin waktu itu sahabat sempat menaruh kepercayaan pada dirinya. Saya, tidak. Dasarnya? Kembali ke atas, keyakinan yang berbeda.

Inipun sama, dalam perspektif dunia global banyak negara menaruh harapan pada cina sebagai penolong urusan finansialnya dan sebagai teman dalam hubungan bilateral. Tapi lihat ketika pinjaman mereka gagal dibayar, mereka harus melego saham BUMNnya ke cina atau biasa disebut sebagai dampak Chinese Money Trap. Zimbabwe sampai mengganti mata uangnya menjadi yuan sebagai imbalan penghapusan utang.

Yang ketiga soal literasi. Kadang kita sering terperangah dengan kemampuan literasi seseorang. Mudah takjub. Kalau orang Jawa bilang, “gumunan”. Padahal setiap teks bisa dihasilkan dari rujukan atau nukilan sumber tertentu. Bercampurlah menjadi sebuah narasi hebat dan kita menganggapnya itulah buah pikir dan ide cemerlang dari pikiran penulisnya. Belum tentu!

Baca Juga:   Catatan Kecil Sekitar Senayan

So, ZWJ menurut saya biasa saja. Tidak ada yang mengagetkan atas dirinya. Tak ada yang istimewa. Dari dulu sampai hari ini. Selama ia tidak satu keyakinan, selama ia tidak satu kiblat dan selama ia belum istiqomah mengajak di jalan kebenaran, selama itu tempatkanlah kawanmu pada porsi yang biasa saja. Jangan terlalu besar meneteskan harapan, supaya lukamu tak menderas di ujung cerita. Berilah stempel istimewa padanya ketika sudah lunas di ketiga hal tadi, keyakinan, kiblat dan istiqomah di jalan yang benar.

Salam Persahabatan

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
[COVID19 confirmed_title="Cases" deaths_title="Deaths" recovered_title="Recovered"]
%d bloggers like this: