Kafe Klandestin

Serial Kafe Klandestin: Nilai Seni

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on tumblr
Share on email
Share on whatsapp

Ikhwanul Halim

Ikhwanul Halim

Ampon Wan, seperti zaman dulu, bikinkan aku kopi pancung sore.”

“Alahai Apa Jampok! Lama tak sua. Kemana saja?”

“Keliling tiga benua menjual debus… ha ha ha!”

“Hebat kali Apa Jampok ini. Sudah jadi seniman tingkat dunia. Kenapa masih minum kopi encer? Sudah encer setengah cangkir pulak! Yang pantas Vietnam Drip atau Cappucino. Setidaknya Arabica Espresso, lah.”

“Nanti mati pulak aku. Sama dokter sudah dilarang minum yang kental-kental. Bahaya buat ginjal, katanya. Padahal aku paling suka susu nona yang kental-kentul … ha ha ha!”

“Macam mana pulak ini, seniman debus kebal senjata tapi minum kopi langsung sakit pinggang. Apa guna banyak uang tapi penyakitan?”

“Mana ada banyak uangku. Kalau aku ceritakan ke mana honor yang kudapat, hilang amal sedekah jariahku.”

“Tapi memang hebat seniman-seniman sekarang. Bikin patung bambu yang cuma tahan beberapa purnama bayarannya setengah miliar lebih. Penghuni kolam rawa keruh langsung bergolak seakan habitatnya tercemar gas amoniak.”

Ampon Wan, kalau saja aku tak kenal kau sebagai mantan seniman, sudah kutapuk kepala kau. Seni itu tidak bisa dihargai dengan uang. Makin tinggi nilai estetikanya semakin mahal harganya. Kau tahu awak juga seniman instalasi. Malah untuk tugas akhir awak di institut dulu, awak bungkus gedung Fakultas dengan karung goni. Kau ingat event seni kuliner tahun kemarin? Instalasi tali rafia awak dihargai lima belas juta untuk kegiatan lima hari. Kau tahu lah, berapa harga tali rafia kalau beli grosir. Cuma yang tak diingat orang, jarang sekali ada order seperti itu. Kalau ada beberapa dibagi sesama seniman biar tak terjadi kecemburuan sosial.”

Baca Juga:   Serial Kafe Klandestin: ABS (Asal Boneka Senang)

“Ada yang bilang mengapa tidak pakai besi baja-“

“Kelihatannya patung logam untuk saat itu sudah tidak memungkinkan dari segi waktu dan biaya. Patung Kuda Arjuna Wiwaha dibangun tahun 1987 dengan total biaya 300 juta, 100 juta untuk maestro Nyoman Nuarta. Uang yang sangat banyak pada masa itu. Direnovasi tahun 2015 pada masa Ahok. Kau tahun berapa biaya renovasinya? Empat ratus miliar. Apa ada yang bilang kemahalan? Kalau ada yang bilang mahal pasti dijawab taik!

“Jadi menurut Apa Jampok, Dana Abadi untuk Seniman yang 7 triliun itu biasa saja, ya?”

“Kalau itu awak malas komentar. Malu awak, seniman tapi kelakuan macam bencong pengamen di lampu setopan. Mendingan itu duit buat tambah gaji guru honorer.”

Bandung, 20 Juli 2019

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Wiwin Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Wiwin
Guest
Wiwin

Seni bambu beli bambu dari rakyat bukan dari negeri tirai bambu tp yg diekspor besi…

[COVID19 confirmed_title="Cases" deaths_title="Deaths" recovered_title="Recovered"]
%d bloggers like this: