Episode Kecil Sebuah Fitnah

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on tumblr
Share on email
Share on whatsapp

Jadi, pahamilah ketika seseorang tiba-tiba berteriak kencang jangan langsung menganggapnya benar. Bisa jadi itu strategi menebar angin menghimpun halilintar untuk hujan yang menyejukkannya.

Yanto Hendrawan
Episode Joker

Presiden negeri Alibaba minta agar aparat menindak kelompok yang menghalangi natal di negerinya. Kelompok mana yang menghalangi? Benarkah ada yang mencoba menghalangi?

Inilah cara mengungkap ada apa dibalik pertanyaan itu..

Suatu pagi di sebuah halte…

Ada sekitar 5 orang berdiri selain saya. Menunggu bis di bawah halte pinggir jalan. Perempuan 2 orang dan lelaki 3 orang. Dan saya orang keenam yang jadi preman di sekitar halte.

Tiba-tiba salah satu perempuan tadi ditanya oleh salah satu dari 3 pria di halte. Pertanyaannya sederhana, “Mau kemana mbak?”. Mungkin karena cantik dan menarik maka si pria coba membuka dialog. Sesuatu yang sebenarnya biasa saja. Umum terjadi begitu.

Tapi tidak buat saya!

Saya akan buat keributan. Saya akan menjadi sosok pahlawan yang membela kaum wanita. Saya akan dapat pujian. Saya akan dianggap preman baik. Dan saya bisa meraup keuntungan dari kekisruhan yang saya ciptakan sendiri. Siapa tahu diantara orang yang nantinya melihat kisruh ini menarik saya jadi satpam. Citra saya jadi bagus sebagai preman.

Lalu apa yang harus saya lakukan? Buat keributan!

Sayapun mendatangi pria yang bertanya dan mencoba merelainya dengan ujaran, “Mas, tolong sopan di tempat umum. Jangan mengganggu perrmpuan. Atau berhadapan dengan saya!”. Cie..cie.. Sambil saya katakan pada perempuan itu, “Maaf mbak, orang ini sudah sering begini, kami disini sudah tandai dia”

Percaya? Ya pasti percayalah. Tatto dan pakaian pertanda saya preman pasti dikira memang sudah hapal dengan orang yang suka mengganggu.

Lalu prianya tak bela diri? Pasti. Tapi cukup sekali gerakan menarik lengan baju menunjukkan tatto sambil nempelkan gagang pisau di pinggang, nekat mau melawan saya? Haha..

Baca Juga:   Jiwasraya yang Diperkosa Oleh Jiwaserakah

Singkat cerita terjadi cek cok dan adu mulut. Karena saya preman, maka saya bisa berteriak lantang unuk mengeroyok pria tadi pada orang-orang sekitar. Terjadilah keributan. Ramai orang berkumpul dan karena saya banyak teman di sekitar halte, maka bargaining power saya kuat unuk memfitnah pria tadi. Semua orang di sekitar halte tertuju matanya ke halte ini.

Akhirnya kegaduhan itu berhasil menempatkan saya sebagai orang yang benar baik dan sosok pahlawan. Orang-orang berpihak pada saya sebagai preman yang mengamankan perempuan tadi. Kalau pria tadi coba membantah fitnah saja, urusannya panjang. Yang pasti bukan kepada saya tapi pada aparat yang juga teman saya. Hahaha…

Hayo, mau melawan saya?

Begitulah ceitanya. saya berhasil mendapat simpatik dari para perempuan dan orang-orang di halte itu. Termasuk orang-orang yang lewat di sekitar keributan. Apa berita yang beredar dari mulut ke mulut saat orang bertanya ada apa? “Ada yang ganggu perempuan”. Apakah ada yang akan bilang “Preman cari gara-gara”?

Tak ada!

Jadi, pahamilah ketika seseorang tiba-tiba berteriak kencang jangan langsung menganggapnya benar. Bisa jadi itu strategi menebar angin menghimpun halilintar untuk hujan yang menyejukkannya.

Salam Waras

Popular Post

Random Post

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of