Dua Terobosan Qurban Ala Pemprov DKI

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on tumblr
Share on email
Share on whatsapp

Iramawati Oemar

Oleh: Iramawati Oemar

Idul Adha dari tahun ke tahun nyaris serupa. Yang paling menghebohkan sekaligus paling ditunggu-tunggu adalah saat pembagian daging qurban. Tak jarang keriaan dan semangat berebut mendapat daging qurban berubah jadi tragedi. Karena semua tak mau mengalah, sementara jumlah yang mengantri sejak pagi membludak melebihi prakiraan, akhirnya saling dorong dan saling sikut pun terjadi. Anak-anak dalam gendongan, lansia tua renta, terjatuh dan terinjak-injak.
Alhasil, masjid-masjid dan organisasi Islam besar berupaya mencari terobosan agar pembagian daging qurban bisa berjalan lancar, tertib dan aman.

Namun satu hal kerap terlupakan : sampainya daging qurban kepada yang berhak dan dimanfaatkan sebagaimana seharusnya. Salah satu hikmah qurban adalah memberi kesempatan pada kaum dhuafa agar bisa menikmati/menyantap daging yang dalam keseharian mungkin jarang sekali bisa mereka nikmati karena harganya tak terjangkau dompet belanja dapur. Saat Idul Adha itulah mereka mendapat daging sapi atau kambing gratis, lalu dimasak dan dimakan bersama keluarga. Sekali dalam setahun mereka bisa membakar sate atau membuat gulai dan tongseng sendiri.

Sayangnya, untuk mengolah daging mentah menjadi makanan siap santap yang enak tidak hanya butuh tenaga untuk mengolahnya. Selain kepiawaian memasak – yang akan menentukan enak tidaknya hasil masakan – juga dibutuhkan bumbu pelengkap, alat masak, dan pendukung lainnya semisal gas elpiji, dll. Karena alasan “ribet” inilah, kerapkali kaum dhuafa penerima daging qurban “menjual” daging yang diterimanya kepada “pengepul” yang diam-diam bergerilya. Fenomena semacam ini sebenarnya sudah lama terjadi dan sudah TST, tahu sama tahu.
Karena kaum dhuafa menerima daging itu secara gratis, maka mereka menjualnya pun tidak dengan harga tinggi. Cukup asal ada uang pengganti. “Dagang” daging qurban gratisan inilah yang kemudian memicu orang ingin mendapat lebih dari satu. Katakanlah setiap kantong daging sapi qurban berisi setengah kilogram daging plus tulang. Kalau dipasar, daging segar seperti itu harganya katakanlah 65 ribu rupiah. Nah, berhubung daging itu didapat gratisan, maka nilai tukarnya pun suka-suka “tukang tadah”nya. Bisa jadi hanya dihargai 30 ribu atau bahkan 25 ribu per kantong. Si dhuafa mau saja, hitung-hitung ongkosnya antri dihargai dengan uang.

Baca Juga:   The Silence of Working Leader (Pemimpin Nyang Kaga banyak Bacot Tapi Kerje)

Akhirnya, karena tergiur dengan uang pengganti, maka dia pun mengerahkan seluruh anggota keluarganya untuk mengantri. Istri, anak-anak, keponakan, adik, semua disuruh antri. Satu keluarga bisa mendapat banyak kantong daging, lalu disetor kepada “tukang tadah” alias “pengepul”. Mereka pulang membawa uang tak seberapa saja sudah senang, namun maksud pembagian daging qurban menjadi tak tercapai. Keluarga dhuafa tetap saja tak bisa menikmati lezatnya daging segar penambah gizi dan nutrisi keluarga.
Dan…, si pengepullah yang untung besar. Daging dimasukkan ke dalam freezer, esok atau lusa dijual di pasar dengan harga mendekati normal. Yaaah…, kalau dijual 15–20% di bawah harga normal pun masih untung banyak. Sebab dia mendapatkannya dengan harga tak sampai 50% harga normal.
Lagi-lagi para “tengkulak” daging qurban inilah yang menangguk untung besar. Orang-orang yang punya cukup modal untuk meng-“ijon” daging qurban jatah dhuafa. Sementara kaum dhuafa sendiri hanya kebagian uang “recehan” tanpa bisa menikmati lezatnya daging qurban.
Maksud dan tujuan qurban pun tak tercapai.


Pada Idul Adha kali ini Pemerintah Provinsi DKI dibawah kepemimpinan Pak Anies Baswedan melakukan terobosan yang OUT OF THE BOX thinking. Pemprov menggandeng beberapa hotel berbintang 5 di Jakarta untuk dijadikan “DAPUR QURBAN 2019”. Juru masaknya adalah para chef handal dari hotel-hotel ternama itu. Mereka akan mengolah daging qurban menjadi masakan siap santap yang bukan saja rasanya enak, tetapi cara penyajiannya pun bagus, dimasak dan dikemas dengan higienis sehingga tiba di tangan penerima dengan sangat layak.

Bayangkan, kaum dhuafa, fakir miskin di DKI tidak perlu capek-capek antri untuk mendapatkan sekantong daging, yang akhirnya sebagian dari mereka pun bingung akan dimasak apa, selain cuma dibakar jadi sate dengan cukup dibumbui kecap plus ditaburi irisan cabe sekedarnya, maklum cabe sekarang satu ons saja belasan ribu harganya.
Dengan terobosan seperti ini, kaum dhuafa tinggal menyantap hidangan daging qurban ala hotel bintang 5 yang rasanya lezat. Mungkin seumur hidup mereka belum pernah rasakan menu masakan daging seperti itu. Tapi kini, mereka mendapatkan kesempatan merasakannya, dibagikan gratis pula! Tak perlu lagi memikirkan membeli bumbu pelengkap, beli minyak goreng, beli gas elpiji, untuk memasaknya.

Baca Juga:   Antara Gang Sampahan - Waduk Pluit, Ada Kali Gendong Yang Mati

Satu hal lagi : sudah pasti hidangan siap santap itu didistribusikan kepada kaum dhuafa, sehingga tidak ada daging yang diselewengkan jadi barang dagangan di “pasar gelap” oleh para “tengkulak” yang bergerilya membeli murah daging qurban dan kaum dhuafa yang berkeringat mengantri, lalu mereka menjualnya kembali dan mendapatkan untung banyak sementara kaum dhuafa tak bisa menikmati lezat dan gizinya daging.

Sungguh ini terobosan yang luar biasa dan belum terpikirkan oleh siapapun sebelumnya.
Kalau ada yang nyinyir berpendapat bahwa daging qurban harus didistribusikan mentahnya, sedangkan kalau sudah dimasak itu berarti aqiqah, berarti orang seperti itu harus lebih banyak mengkaji lagi bagaimana qurban dibagikan di jaman Rasullah serta para sahabat. Bahkan Rasul pernah berkata agar daging qurban dikelola dengan baik agar bisa bertahan lama agar lebih besar lagi manfaatnya. Artinya : tidak mungkin daging itu dibagikan dalam bentuk daging mentah, yang hanya mampu bertahan 1-2 di udara terbuka (jaman dahulu belum ada lemari pendingin, sementara suhu di tanah Arab tinggi).
Saran Rasulullah itu menunjukkan bahwa sejak dahulu pun ummat Islam sudah disuruh untuk berpikir bagaimana caranya agar daging qurban bisa lebih bermanfaat selain hanya diberikan dalam bentuk daging mentah yang belum diapa-apakan.

Kini, dengan teknologi pengolahan dan pengalengan, daging qurban sudah banyak yang diolah menjadi kornet kalengan siap masak. Dalam bentuk kornet kemasan kaleng, pendistribusiannya bisa lebih luas jangkauannya dan lebih lama durasinya. Bahkan, jika terjadi bencana dan banyak pengungsi membutuhkan, daging qurban kemasan kornet ini bisa sangat membantu. Pun juga bisa dikirim ke saudara-saudara Muslim yang menjadi pengungsi akibat konflik bersenjata di berbagai belahan bumi.
Pemprov DKI pun bekerjasama dengan salah satu lembaga zakat, sebagain daging qurban diolah jadi kornet dan dikemas dalam kaleng, berlogo Pemprov DKI.

Baca Juga:   NEGARA ITU BERNAMA YAJIADA

Salut untuk Pak Anies Baswedan yang memikirkan bagaimana distribusi daging qurban bisa lebih dirasakan manfaatnya dan tepat sasaran.
Abaikan nyinyiran orang yang tidak paham, teruslah berinovasi yang memberi manfaat lebih. Dan yang tak kalah penting : TEPAT SASARAN serta MEMINIMALISIR PENYELEWENANGAN/PENYALAHGUNAAN.


Popular Post

Random Post

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Aan Setiawan Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Aan Setiawan
Guest
Aan Setiawan

Hanya orang cerdas mengerti dan memdalami agama yg. Bisa punya ide terobosan seperti ini.