Dibalik Semua Issue, Ada Motif Besar

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on tumblr
Share on email
Share on whatsapp

Alhadi Muhammad

By Alhadi Muhammad

Ini dimulai ketika angka binary diimplementasikan ke dalam keping silicone, sehingga terjadilah revolusi teknologi. Dimana manusia bisa saling berinteraksi satu sama lain, tanpa harus bertemu, cukup dengan perangkat di tangan, suara dan gambar diubah menjadi digit 0 dan 1 yang kita sebut data. Data tersebut melintas melalui jaringan kabel tembaga, serat optik atau gelombang nir kabel. Praktis kehidupan manusia berubah drastis, semua serba cepat tapi tanpa rasa. Cara berinteraksi manusia berubah total, manusia sebagai makhluk sosial yang sejatinya berkumpul, bertemu dan saling bersentuh, sekarang cukup dengan seonggok “text” dan gambar tanpa nyawa.

Sekitar 2012-2013, mantan kontraktor CIA dan NSA, Edward Snowden membongkar praktek penyadapan ilegal yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat. Penyadapan hampir bisa dilakukan dalam segala bentuk komunikasi elektronik. Mau itu telpon analaog, telpon digital, email, chat, sms, skype, aplikasi sosial media atau aplikasi yang berbasis data menggunakan protokol IP. Semua platform komunikasi bisa disadap.

Tidak sekedar komunikasi yang bisa intercept (disadap), lebih dari kemampuannya mampu mengubah angka yang tertera didalam database perbankan. Angka rupiah milik kita yang tertera di rekening bank, pada hakikatnya hanya angka bisu, angka tersebut bukanlah kekayaan fisik yang kita miliki. Jika sewaktu-waktu aksi intruder dilakukan ke database perbankan, dan mengubah angka di rekening menjadi nol (0), maka secara fakta kekayaan yang dimiliki ikutan ludes. Ya inilah era dimana semua interkasi manusia terekam oleh data. Bisa jadi data seseerang hilang atau dihapus, maka secara hukum dan sistem yang berlaku, eksistensi manusia yang dihapus datanya, sudah dianggap TIDAK ADA.

Beberapa orang/lembaga mampu melakukan control atas perangkat yang digunakan manusia pada umumnya, seperti Android atau IPhone.Semua interaksi manusia, bisa direkam oleh pengelola data seperti Google atau Apple. Kita sedang membaca tulisan ini, atau kita sedang berkirim surat, telpon atau sms, bahkan lokasi kita terbaca, dikarenakan perangkat yang kita gunakan dilengkasi GPS, dan semuanya bisa direkam.

Baca Juga:   Viralkan, Eskpor Komoditas Ini Naik Tajam

Google mengembangkan Operating System untuk perangkat cerdas (smartphone), dan diberikan secara gratis. Lalu orang akan bertanya, apa untungnya Google memberikan OS Android secara gratis? Ada yang mengatakan karena Google didalam sedang jualan iklan. Pendapat ini tidak salah, karena iklan juga memberikan kontribusi ke Google cukup besar. Namun lebih dari itu, diperangkat Smartphone yang kita gunakan, hampir semua sensor disertakan. Dari sensor GPS, ketinggian, cahaya, dan lain sebagainya. Bahkan kedepan sensosr ditingkatkan agar Android dapat membaca kesehatan manusia, dari detak jantung, kadar gula, tekanan darah, dan lain-lain. Semua difasilitasi oleh Google didalam operating system yang dikembangkannya. Justru disinilah uang pemasukan terbesar yang didapatkan.

Google berkuasa atas data pengguna. Mau itu data lokasi sampai data kesehatan. Aktifitas manusia direkam, dihimpun dan disimpan ke dalam Super Database, atau biasa disebut Big Data. Big Data tersebut jika diolah menjadi sajian laporan yang ditunjukkan beberapa kepentingan bisnis, maka data tersebut bernilai trilyunan dollar. Bisa saja sebuah pabrik obat berencana memproduksi obat yang kemungkinan laku di pasar, maka pabrik obat tersebut cukup meminta ke Google, penyakit yang paling banyak di derita umat manusia saat ini, 5 tahun lagi, atau 10 tahun lagi.

Lalu bagaimana jika Google di intervensi oleh pemerintah Amerika Serikat untuk membuka data pengguna seluruh dunia? Bagaimanapun Goole tunduk di wilayah hukum Amerika, karena Google ada di Amerika. Maka Amerika tidak perlu mengirimkan mata-matanya ke negara tertentu. Cukup melakukan beberapa baris query SQL, semua data yang dibutuhkan tersaji secara gamblang. Kita ambil contoh, jika di Indonesia saat ini cuaca sosialnya sedang panas, dan pihak mana yang berpotensi terjungkal, serta kapan waktu yang tepat untuk dilakukan aksi serangan, militer Amerika cukup meminta Google menyajikan itu semua.

Baca Juga:   Mak Nur Asia Uno Maju Ke Pilwakot Tangsel

Jadi jangan terlalu bangga dengan perangkat smartphone yang dimiliki bisa ana ini itu. Bahkan smartphone yang dalam kondisi kameranya tidak aktif, beberpa lembaga keamanan mampu merekam video dan suara padahal pemiliknya tidak menyadarinya. Apalagi cuman text, sms atau email.

Lalu bagaimana dengan di Indonesia? metode yang digunakan keamanan Indonesia seperti jaman purba. Yang diandalkan buzzer, fitnah dan arogansi kekuasaan dengan menangkap nangkapi oposan, lebih dari itu tidak ada. Manuvernya sangat usang, dengan menghembuskan issue khilafah, HTI, radikal dan sejenisnya. Dengan modal agitasi, dibenturkan rakyat di Jakarta, Papua dan di daerah lain. Metode paling buruk yang berdarah-darah, hanya untuk mempertahankan kekuasaan dan hegemoni elit ekonomi agar tetap berkuasa.

Sama seperti di Amerika saat invansi ke Irak, Libya, Afganistan atau negara lain dengan tuduhan Terorisme, ISIS, AL Qaeda, padahal sejatinya itu hanya alasan yang dibuat-buat, dibalik semua itu ada motif ekonomi untuk menguasai sumber daya alam suatu negara. Di Indonesia hampir mirip, issuenya Islam Radikal, HTI dan Khilafah. Padahal dibalik itu semua, ada kepentingan penguasaan politik, dan disandingkan jargon Pancasila, semua cara jadi halal dilakukan, termasuk dengan kekerasan yang berdarah-darah. Sekali lagi, issue tersebut hanya alasan untuk sebuah motif besar yang sedang dijalankan..

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
[COVID19 confirmed_title="Cases" deaths_title="Deaths" recovered_title="Recovered"]
%d bloggers like this: