Di Taman Monas Kita, Kami Kelaparan Disana

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on tumblr
Share on email
Share on whatsapp

Maya Amhar

Catatan Maya Amhar

LEBARAN BETAWI

Siang itu. Seusai acara doa bersama di Gedung DDII yang dihadiri, Amien Rais, Taufik Ismail, Hendrajit dan Pipiet Senja, aku diajak teman ke acara Lebaran Betawi Di Monas.
“Kita makan dulu yuuuuk .. lapar ..”. Ajakku kepada teman-teman yang mau ke acara Lebaran Betawi di Monas.
“Gak usah mbak .. nanti saja disana, kita makan kerak telor dan soto Betawi”.
Akhirnya, kamipun berangkat ke Monas, dalam keadaan lapar, belum makan siang.

Kami masuk dari pintu Merdeka Selatan, dekat bundaran air mancur BI. Menyusuri stand demi stand 6 Wilayah DKI.
Mungkin karena masih siang, pengunjung tidak begitu rame. Sehingga kami lebih leluasa melihat-lihat stand-stand dari 6 wilayah DKI dan tak lupa aku celengak-celengok mencari penjual kerak telor, tetapi tidak ada orang yang menjualnya. Hingga aku sampai ke panggung utama dekat tugu Monas, tetap mencari penjual kerak telor tapi tidak ada juga yang menjualnya.

Aku mulai gelisah, selain lapar, aku juga kehausan, ditengah siang menuju sore yang masih terik itu.
Aku bertanya pada salah seorang petugas,
“Pak, dimana aku bisa mendapatkan makanan dan minuman di dalam wilayah Monas ini?”.

Beliau menunjuk sebuah tenda tempat menjual makanan dan minuman. Aku segera kesana, meninggalkan teman-temanku. Sampai ditempat yang dituju, ternyata kupon penjualan makanan dan minuman sudah habis.
“Maaf pak, apakah saya bisa beli makanan dan minumannya tanpa beli kupon?”.
“Gak bisa bu, karena makanan dan minumannya juga sudah habis”.
“Aku kelaparan dan kehausan pak, dimana aku bisa mendapatkan makanan dan minuman selain ditempat bapak ini ?”.
“Di IRTI bu, silahkan Ibu kesana saja”.
“Di IRTI tempat parkir ?”
” Ya Bu”.

Akupun bergegas ke IRTI dan benar, semua penjual makanan dan minuman ditempatkan di lokasi ini. Pengunjung disini cukup ramai dari pada di lokasi “Lebaran Betawi”. Mereka berdesak-desakan memesan makanan kesukaan mereka.
Akupun segera memesan kerak telor, setelah itu mencari Soto Betawi dan makan disana bergabung bersama teman-teman yang ternyata juga sudah sampai disana karena kelaparan. Seusai makan, aku langsung pulang. Malas untuk masuk lagi kedalam Monas.

Esoknya, Minggu 21 Juli, tim SK HAPPI ikut lari diacara Second Chance Charity Run di lot 16 SCBD. Seusai acara, tim SK HAPPI Jonggol mengajak ke Lebaran Betawi. Kamipun naik bus way ke sana
Sungguh tidak kami duga sedikitpun, penumpang bus way penuh sesak ! Sehingga kami terpaksa berangkat sebagian-sebagian.
Sampai di halte Monas kami turun menunggu teman-teman yang lain dari bus way berikutnya.
Ya Allah … sungguh sangat luar biasa padatnya halte Monas ini. Penumpang yang baru turun , sangat sulit maju untuk keluar dari halte karena saking ramenya, sementara pengunjung yang sudah selesai dan mau balik pulang, juga berdesak-desakan maju menuju tempat menunggu kedatangan bus way untuk pulang. Anak-anak menjerit-jerit dan menangis karena kegencet-gencet dan kegerahan . Orang tua yang tidak sabar juga teriak-teriak minta jalan. Kami terjepit diantara mereka. Hingga salah seorang teman dari SK HAPPI Jonggol bilang,
“Bunda, kita pulang saja deh. Gak usah ke Lebaran Betawi. Gak kuat desak-desakannya. Terlalu rame”.
“Baik, kita tunggu teman-teman yang belum datang. Nanti kita langsung naik bus mereka saja”.
Ketika rombongan yang terakhir datang, akupun bilang, ” gak usah turun. Kita balik saja, terlalu rame. Gak bisa bergerak!”.

Baca Juga:   Orang Papua Balas Rasisme Monyet dengan Topeng Monyet

Kamipun balik pulang. Bahkan gak sanggup naik Bus Way kembali untuk pulang kerumah karena di Harmoni penumpang yang antri mau ke Monas juga berjubel.

Sungguh saya sesali, kenapa tidak dilakukan pembagian jalan di Halte Monas tersebut. Jalan mereka yang mau pulang naik Bus Way diberi pembatas dengan jalan mereka yang baru datang. Sehingga bisa lebih tertib dan tidak campur baur. Atau bisa juga dipecah kepadatan orang yang ada dihalte Monas tersebut dengan membuat tangga turun disamping jalan Bus Way dengan diberi batas pengaman. Sehingga mereka yang baru datang, masuk Monas dengan suasana hati yang riang gembira. Bukan datang dengan suasana hati yang dongkol dan marah akibat terlanjur emosi berdesak-desakan dan saling tabrak-tabrakan karena berdesak-desakannya juga berlawanan arah.

FESTIVAL OF LIGTH

Seusai upacara bendera 17 Agustus di UBK. Temanku Nina Bahri dan Dewi Herawati Ketum Espas, mengajak mampir dulu di Metropole dan kita nonton bioskop disana. Film yang cukup panjang, 3 jam lebih, sehingga selesainya sudah hampir Maghrib.
Pulangnya, Nina mengajak kami ke Monas melihat pertunjukan Festival Of Ligth bersama keluarganya. Tetapi Dewi tidak ikut karena sudah malam dan jauh dari rumahnya.

Seperti ke Monas Lebaran Betawi. Aku juga kesana dalam keadaan lapar. Apalagi siangnya kami tidak makan makanan berat. Ternyata suami nina juga dalam keadaan lapar. Pas didepan Restoran Pelangi, beliau mengajak kami makan dulu disana. Tapi Nina bilang, “nanti saja pas pulang, takut kemalaman sampai Monas. Ntar sampai Monas kita ganjal pake Kerak telor dulu aja”.

Memasuki daerah Gambir. Jalan teramat sangat padatnya sampai ke Monas.
Alhamdulillah, mobil bisa masuk sampai kedalam Monas. Begitu turun, adik Nina berkata, “lapar”.
Kejadian di acara Lebaran Betawi terulang lagi. Aku jalan, sambil mata celengak celengok kiri kanan mencari tukang dagangan Kerak telor. Tapi tidak bertemu.

Baca Juga:   BLACK OUT

Ya sudahlah … mari nikmati Festival Of Ligth dengan perut yang lapar.

Taman Monas seperti taman keluarga. Para orang tua datang membawa keluarganya, ada yang bawa bekal dari rumah dan sampai disana, gelar tikar dan makan bersama. Anak-anak berlarian riang gembari dengan mainan pelontar yang ada lampu kelap kelipnya sehingga malam begitu indah, laksana dihiasi kunang-kunang yang beterbangan.

Suasana ini mengingatkanku pada malam Bulan purnama di Kotaku. Kami keluar rumah untuk bermain bersama-sama. Menikmati indahnya Purnama.

Aku merasakan kegembiraan masa kecil itu hadir di Monas. Seakan Monas Taman Kita, tempat kanak-kanak bermain bergembira-ria.

Tiba-tiba sosok bu Fery Ferhati Ganis istri Mas Anies hadir ditengah Taman ini. Ibu Fery yang pakar Farenting. Sentuhan bu Fery sebagai pakar pareting hadir disini. Luar biasa.
Tidak apalah, rumput Taman Monas ini sedikit rusak karena anak2 berlarian diatasnya dan para orang tua, menunggu anak-anaknya bermain sambil duduk-duduk diatas tikar yang digelar di atas rumput taman Monas.

Yang sangat menarik perhatianku adalah, pengumuman yang tidak putus-putusnya mengumumkan berita anak hilang, sahabat yang hilang, orang tua yang hilang.
Tak putus-putusnya berita anak hilang.

Taman Monas ini sangat luas. Sekalipun namanya Festival Of Ligth, tapi cahayanya tak mampu membuat setiap sudut Monas terang benderang bermandikan cahaya. Sehingga anak-anak mudah tercecer dan kehilangan keluarganya

Aku lama berdiri didepan lampu yang berbentuk kapal. Mencermati pengumumanan anak hilang yang tak putus-putusnya.
“Telah ditemukan seorang anak usia 6 tahun. Nama sipulan. Pake baju warna .. gigi ompong satu. Nama Bapak .. nama Ibu… alamat. Buat orang tua yang merasa memiliki anak dengan ciri-ciri tersebut, harap ke kemah biru”.

Baca Juga:   The Silence of Working Leader (Pemimpin Nyang Kaga banyak Bacot Tapi Kerje)

Aku melayangkan mata berkeliling mencari kemah biru, tapi tidak bertemu. Harusnya, kemah biru tempat mencari anak-anak yang hilang itu, diberi juga lampu warna biru, yang bisa dilihat dari jauh. Agar orang mudah menemukannya. Kalau perlu, diberi lampu berbentuk tanda panah yang besar berwarna biru, yang menunjuk kearah kemah biru.

Kami hanya sebentar keliling ke beberapa tempat dan kemudian pulang karena lapar.

Sangat saya sayangkan, kenapa Pemprov tidak menyediakan tempat dagang kerak telor di lokasi ? Bukankah Kerak Telor makanan khas Betawi yang harus dilestarikan dan dilerkenalkan ke masyarakat luas dan even-even di Monas seperti Lebaran Betawi dan Festival Of Ligth harusnya Kerak telor bisa berada ditengah-tengah taman.

Jika ditata dengan mengedepan cita rasa seni, saya yakin, Kerak Telor bisa jadi objek Selfie pengunjung. Kalau perlu diadakan lomba selfie bersama abang Kerak Telor. Abangnya wajib pake baju khas abang Betawi. Ada bangku lipat khas pedagang Kerak telor untuk pembeli, sehingga pemesan bisa duduk didepan Pedagang Kerak telor sambil menikmati aktraksi pembuatan Kerak telor. Pedagangnya diatur rapi. Berjejer lima-lima, ditempat-tempat strategis.

Menurutku, Kerak telor masih bisa dimodifikasi. Rasa : original, keju, selai kacang, saos sambal, saos tomat dan mayonais.

Bisa juga menyertakan Pedagang bir Pletok. Tak kenal maka tak sayang. Setelah dikenal rasa Kerak Telor dan bir Pletok, mungkin nanti mereka jadi pelanggannya.

Jika alasannya takut pembungkus Kerak telornya menjadi sampah. Saatnya mengajar masyarakat tertib buang sampah dengan menyediakan tempat sampah yang mudah dijangkau.

Sepulang dari Festival Of Ligth, kami terperangkap macet yang sangat padat. Membuat perut tambah lapar.
Suami Nina sampai bertanya.
“Ada makanan kah di mobil ??”

Ternyata, bukan kami saja yang kelaparan di Monas. Beberapa teman juga berkata begitu. ” Kami buru-buru pulang, karena kelaparan”.

Popular Post

Random Post

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of