Cukup Disampaikan Oleh Sebuah Foto

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on tumblr
Share on email
Share on whatsapp

Senang rasanya jika semua hal terjelaskan tanpa perlu caci maki dan hujat yang membuat hati jadi bejat. Cukup sebuah foto yang memberi pelajaran buat kita untuk melihat mana manusia pilihan, mana manusia oplosan.

Yanto Hendrawan

Seseorang bicara dengan gembira. Seperti tak berbeban apapun. Padahal banyak betul yang iri dan busuk hati kepadanya. Di podium itu ia menjelaskan tentang program kerjanya. Santai sekali, tapi progress ketat tetap berjalan.

Orang-orang menyukai caranya bersikap, gayanya berbicara, kecerdasan olah katanya, kemampuan tatakelolanya, kepemimpinannya piawainya menjawab dan daya dirinya menahan arus kebencian kepadanya. Hanya pribadi matang yang bisa begitu. Hanya jiwa yang kuat yang bisa bertahan dari gempur kejahatan konstitusi berlabel pengawasan. Dan dialah contoh pribadi itu buat kita hari ini.

Lalu coba kita perhatikan dua foto di belakangnya. Contoh dua manusia yang belum siap menjadi pemimpin. Tetapi didorong oleh kepentingan kekuasaan yang harus mendudukkan mereka di kursi panas sebuah lembaga bernama negara. Mereka berdua memandang tajam pada sang pembicara. Tak ada senyum genbira, tak ada wajah ceria. Yang ada hanya satu tanya, bagaimana aku bisa seperti dia yang berhasil dan disukai orang-orang di kotanya bahkan di kota-kota kekuasaanku?.

Kita sedang melihat sebuah perbandingan dan pertandingan dalam sebuah foto. Kontras pada banyak hal. Terbalik pada kapasitas dan jomplang pada hasil. Sang pembicara mengelola sebuah kota dengan langkah gemilang nan mempesona. Sementara dua manusia dibelakangnya hanyalah sosok pembantu dan pengikut keinginan partai. Yang satu leader, yang dua looser.

Indahnya foto ini menjelaskan keadaan kita sekarang. Patutlah ucapan terima kasih dan jempol apresiasi kita kirimkan pada sang fotografer yang cerdik membidik objek dan momen. Senang rasanya jika semua hal terjelaskan tanpa perlu caci maki dan hujat yang membuat hati jadi bejat. Cukup sebuah foto yang memberi pelajaran buat kita untuk melihat mana manusia pilihan, mana manusia oplosan.

Baca Juga:   Serial Kafe Klandestin: Kalajengking, Kodok, Unta dan Baobab

Salam hangat dari kami untuk tuan pembicara yang cerdas, beriman dan menyenangkan. Maju terus melangkah untuk kebahagiaan dan dan rasa keadilan bagi warga di kota tuan untuk mengimbangi tekanan dan perihnya hidup akibat ketidakmampuan kerja dua orang itu.

Salam Takzim

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
[COVID19 confirmed_title="Cases" deaths_title="Deaths" recovered_title="Recovered"]
%d bloggers like this: