Catatan Cinta 212

Catatan Cinta 212

Share:

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

(Pipiet Senja)

Aku goreskan catatan cinta ini
Untuk anak anak dan cucuku
Mereka yang sedang lelap
Merenda asa dan mimpi
Dalam hening malam
Tanggal dua bulan desember duaribu sembilanbelas

Anakku dan cucuku
Izinkan Manini pergi dulu
Sengaja tidak pamitan langsung
Sebab kutahu kalian bakal melarangku
Dengan alasan Manini sudah tua
Penyakitan pula
Ah, Cintaku!

Manini pergi takkan lama
Semuanya aman aman saja
Jantung sedang kuat
Darah pun belum lama ditambah
Jangan cemaskan Manini, ya Nak

Sejak tiga tahun silam
Aku pilih bergerak tengah malam
Dalam senyap diam diam
kujejak langkah perlahan
Kadang bersama barisan emak emak
Namun tak jarang hanya seorang diri

Tak pernah merasa gugup
Apalagi bimbang dan takut
Sebab ada semangat menggejolak jauh dalam kalbuku
Kubayangkan sebentar lagi
Aku akan jumpa barisan mujahid dan mujahidah
Sosok sosok penuh semangat
Mereka datang dari pelosok negeri
Bahkan negara tetangga
Sosok sosok yang aku percaya
Rela dan ikhlas
Bela Islam Bela Negeri
Dalam Satu Komando:
Ulama

Ya Robbana
Lihatlah!
Lautan manusia
Bergelombang dan terus bergelombang
Kami munajat bersama
Berdoa bersama
Menangis berjamaah
Berharap cahayaNya
Melimpahkan keberkahan
Untuk Ibu Pertiwi yang sedang berduka

Ya Robbana
Aku bayangkan
Inilah miniatur padang Mashyar
Tempat kita dikumpulkan
Diminta tanggung jawab atas segala
Perbuatan yang telah kita lakukan

Mars 212 pun menggema
Bendera merah putih dan tauhid berkibar
Betapa indah
Betapa permata
Inilah pertemuan akbar lintas agama
Siapapun boleh bergabung
Tiada perbedaan
Tiada istilah minoritas dan mayoritas
Semua sama adanya
Kami rukun dan damai semata

Salam Ukhuwah sejagat
Dunia boleh hiruk pikuk
Jagat boleh hingar bingar
Para iblis berwujud manusia
Boleh saja merasa iri dan dengki

Baca Juga:   Aparatur Ghendeng

Namun yakinlah
bangsa ini niscaya kuat dan semakin kuat
Sebab semangat kita tetap terikat dalam simpul cinta 212

Lihatlah, anakku dan cucuku
Marilah bersama kita songsong
Cahaya di Langit Jakarta
Awal sebab ulah si penista agama
Semoga kita tetap
Perkasa dalam satu teriakan lantang:

Allahu Akbar!

Jakarta, Jelang Reuni 212

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of