Beratnya Jadi Pendukung

Beratnya Jadi Pendukung

Share:

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Wahai anak muda..
Duhai para pengagum..

Ketahuilah,
Kalau kau mendukung seseorang sepenuh hatimu, itu artinya kau akan bersenyawa dengan seluruh hal yang menjadi kebijakan atau keputusan sikapnya. Percayalah, itu tak bisa ditawar. Karena pada dasarnya kita itu peniru. Ingat masa kecil dulu yang kita tiru adalah sikap orang tua bukan?

Pujaanmu suka bakwan, kamu pasti mulai menyukai bakwan. Dia senang kuda, ruang tamumu akan kau hiasi dengan lukisan kuda. Termasuk jika ia suka gebrak meja misalnya, maka perilakumu juga mulai belajar bagaimana menggebrak meja dengan baik. Dan parahnya, jika dia berpindah agama, bisa jadi kaupun mulai menimbang agama sebelah sebagai kebenaran yang lain. Mulai pula kau akan menyebut semua agama pada dasarnya sama.

Kenapa begitu? Karena kecintaan itu membuatmu fokus pada penyamaan dirimu dengan seseorang yang kau cintai. Dan ketika itu berhasil, kaupun bergembira. Hatimu senang dan kau merasa terjaga membersamainya. Padahal kisah, cara, masa lalu, karakter, sifat dan hobimu bisa sangat jauh berbeda dengan sosok kecintaanmu.

Kau menciptakan jembatan rapuh untuk menyeberangi idealisme baru. Perlahan dialiri oleh asap dari arahnya dan kabut dari arahmu. Dan terjadilah persenyawaan hati dalam gumpalan asap berkabut cinta diantara kalian. Saat itulah endorfin alamimu terlepas memenuhi ruang hati dan diri.

Segar dan menyejukkan jiwa.

Itu kalau sosok personaaal. Lain lagi kalau yang kau dukung itu kelompok atau partai. Bisa lebih parah lagi ceritanya.

Perlu kau pahami anak muda, bahwa kelompok atau partai itu memiliki banyak kepala. Setiap kepala punya cara pandang yang pastinya berbeda-beda. Sesuai latar belakang pribadinya. Kalau dibesarkan dari lingkungan atheis maka condonglah ia jadi atheis. Jika ia besar di lingkungan muslim, maka berkhazanah agamislah ia dalam menimbang sesuatu. Tapi jangan dilupa, hasil kebijakan kelompok atau partai itu adalah representasi dari suara terbanyak. Sekali lagi, suara terbanyak!

Baca Juga:   Mayoritas yang Minoritas

Misal ada pilihan bangun toilet atau bangun masjid di gedung BUMN, Nah, kalau suara terbanyak lebih suka bangun toilet, maka terbangunlah toilet-toilet bagus di gedung itu. Tapi kalau mayoritas memilih bangun masjid atau musholla, maka rumah ibadahlah yang banyak di gedung itu, bukan jamban.

Lalu kau masih bertahan menyukai kelompok itu jika akhirnya banyak yang memilih jamban sementara hatimu ada di masjid? Saat itulah kekuatan jembatan yang kusebut tadi menjadi penentu penting bagimu dalam mengabil sikap akhir.

Itulah nak, berat sekali memang. Kau bisa kehilangan jati diri. Kau bisa dijauhi teman baikmu. Kau letih berpihak, lelah membela, tegang urat leher membalas komentar. Postinganpun sindir-menyindir. Belum lagi di grup WA

Akhirya kau tak bahagia dalam menjalani hidup. Arah dirimu juga berubah. Mudah marah, gampang naik darah, sensitif, ringan menuduh nyinyir, benci, dengki, sirik pada kawan dan orang lain.

Huuh..penat sekali jiwamu!

Yah, begitulah dirimu akhirnya. Itu semua risiko kau memuja orang, tokoh atau kelompok.

Sampai disini jika jiwamu terasa benar adanya, tentu kau akan bertanya, lalu baiknya bagaimana tuan?

Saranku..
Berpijaklah pada kebenaran dan kebaikan yang hakiki. Sejauh ini terbukti bahwa agama masih tetap menjadi kiblat terbaik untuk melandasi sikap kita. Condonglah ke arah sifat tuhanmu dari khazanah agama, dalilNYA dan nabimu sebagai rujukan terbaik jalan pikiran dan laku.

Tanamkan itu pada setiap sosok yang kau kagumi. Benamkan itu pada kelompok yang kau dukung. InsyaAllah kita akan selamat dan bahagia dunia akhirat.

Dan ketika seseorang atau kelompokmu melenceng dari patron agamamu, disitulah kau HARUS BERANI mengambil sikap. Menolak dan tak bisa lagi bersama atau mendukungnya. Karena nanti kau akan masuk ke dalam lubang biawak secara perlahan. Putuskan jembatan idealismemu dan insyaAllah kau akan selamat.

Baca Juga:   RASIS

Pesan ini kusampaian padamu karena aku masih memandang penting untuk mengingatkanmu, anak muda. Tapi tidak berlaku untuk para buzzer bayaran. Tak ada maksud lain kecuali mengajakmu tetap di jalan yang lurus. Jangan lupa, ingatkan yang lain.

Salam Waras

Follow Us
No Responses/5