Balada Sepak Bola Duet Jokowi-Nahrawi

Balada Sepak Bola Duet Jokowi-Nahrawi

Share:

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Kekalahan 1-3 dari Vietnam membuat Indonesia disejajarkan dengan Guam ( entah negara di benua apa ini ) dan Sri Lanka. Tim yang bertabur bintang naturalisasi disejajarkan dengan negara antah berantah. Lebih memalukan lagi , kekalahan timnas secara beruntun, kebanyakan di kandang sendiri pula, dan oleh tim sekelas Asean membuat kakak pembinanya, Simon Mcmenemy tertunduk malu disoraki penonton di medsos dengan tagar #SimonOut

Inilah hasil janji duet Jokowi-Nahrawi yang dulu bilang dengan gagahnya, Indonesia tidak takut pada ancaman FIFA. Biar saja di-suspend! Kita pemerintah yang berdaulat, yang berhak mengatur olah raga kita. Masa pemerintah nggak boleh ikut membenahi sepak bola, yang bener aje.

Walhasil, setelah FIFA benar-benar memberi sanksi, pemain sepak bola nasional jadi pengangguran. Untuk menyambung hidup ada yang jualan cilok, ada yang usaha komidi putar, sebagian terpaksa ngamen jadi pemain tarkam. Sementara ketum PSSI La Nayla Mataliti kursi kekuasaannya digoyang terus. Pokoknya lebih seru dan lebih sedih dari drama India.

Untuk menghibur, Jokowi bikin kompetisi lokal. Dengan berapi-api, Jokowi berpidato menyemangati para pemain sepak bola dan penggemar sepak bola tanah air. Dia berjanji akan membenahi sepak bola nasional secara menyeluruh. Suspend FIFA akan jadi pelecut agar sepak bola kita lebih maju di masa datang. Dia memberi contoh negara-negara yang sepak bolanya berkibar setelah kena suspend FIFA. Lha, iylah. Negara-negara itu kan sebelum kena sanksi memang sepak bolanya sudah maju.

Menpora Imam Nahrawi tidak mau kalah dari bossnya. Dengan nada super optimis dia bilang, dengan suspend FIFA ini kita akan membenahi sepak bola kita secara menyeluruh. Percayalah, di masa yang akan datang sepak bola kita akan top markotop!

Baca Juga:   Selamat Berpulang, Mbah Moen

Suspend FIFA akibat Menpora membekukan PSSI pada 17 April 2015, tiga hari jelang Utah PSSI. Muncul pro dan kontra. Bukan hanya di masyarakat tapi juga di kalangan anggota DPR, dan pucuk pimpinan negeri ini. Antara Jokowi-Menpora di satu pihak dengan Jusuf Kalla dan insan sepakbola di pihak lain.

JK ingin mengakhiri pembekuan PSSI dengan mengundang Menpora, Ketua Dewan Kehormatan PSSI Agum Gumelar, Ketua Komite Olimpiade Indonesia Rita Subowo, dan Wakil Ketua Umum PSSI Hinca Panjaitan ke ruang kerjanya. JK berjanji di hapadapan wartawan dengan nada optimis. “Mudah-mudahan hari ini proses pencabutan pembekuannya selesai, sore nantilah,”

Selesai pertemuan, JK dengan sangat meyakinkan mengatakan, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi akan mencabut surat keputusan tentang pembekuan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).

Agum Gumelar mengiyakan JK. Menurut mantan Ketua Komite Normalisasi PSSI itu, Menteri Olahraga Imam Nahrawi sudah menyepakati pencabutan surat pembekuan PSSI. Dia meminta Menteri Olahraga menjalankan keputusan tersebut. “Itu sudah keputusan bersama,” ujar Agum. “Di sini perlu kejujuran dan jiwa sportivitas dari Menpora. Kalau di-suspend FIFA itu berbahaya sekali.”

Tapi rupanya setelah pertemuan di ruang JK, Menpora mendatangi Jokowi di ruang kerjanya. Keluar dari ruang Jokowi, Menpora mementahkan seluruh pernyataan JK! Presiden, kata kata Menpora medukung keputusannya ( membekukan PSSI ) “(Presiden) tidak bicara sepakat atau tidak sepakat. Beliau fokus melakukan pembenahan sepak bola,” ujar Nahrawi.

Walhasil, pertemuan di ruang JK itu seolah pertemuan tak berguna.

Sekarang para para tokoh itu nampaknya sudah nggak peduli lagi. Mau timnas menang kek, mau kalah kek. Mereka sibuk dengan urusan yang lebih penting. Jokowi sibuk menanti pelantikanya, JK sibuk berbenah meninggalkan kantor wapres, Menpora merana di tahanan KPK, La Nyala sibuk setelah diangkat menjadi ketua DPD.

Baca Juga:   Pak Agus, Kalau Begitu Pak Jokowi Terpapar Radikalisme Dong?

Begitulah.
16102019

Follow Us

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
No Responses/5