APA KABAR DEMOKRAT?

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on tumblr
Share on email
Share on whatsapp

Samara Samarani

Hingar bingar masalah rekonsiliasi, koalisi dan bagi jatah menteri memang terlalu sexi untuk di acuhkan. Sebagai pihak yang di menangkan KPU, Jokowi menjadi ratu lebah yang coba di dekati para lebah jantan untuk meminta kawin.

Jika asalnya dari partai koalisi, itu sudah biasa jika pembicaraan saat ini tentang bagi-bagi kursi. Namun ketika datangnya dari partai oposisi, tentu akan membuat dehi berkerut menunggu apa jawaban Jokowi.

Selesai pencobloasan dan masing2 pihak melakukan penghitungan, partai Demokrat yang berkoalisi dengan Prabowo terlihat mulai menjaga jarak. Keterlibatan orang dalam di tim pemenangan Prabowo-Sandi, membuat mereka sudah menilai bahwa kemenangan di kubu oposisi sudah tidak bisa di harapkan lagi.

Perang belum usai, penghitungan Nasional belum memutuskan hasilnya, Demokrat mulai mendekati istana. Mereka abai tentang sebuah rasa kubu Prabowo melihat putra mahkota dengan senyum mengembang mendatangi istana dan mengetuk pintunya.

Demokrat mencuri star untuk kemungkinan merapat ke kubu jokowi. Etika politik yang kurang baik, namun di politik bicara etika..?

Persetan kata pelakunya.

Setelah beberapa kali melakukan pertemuan, juga cairnya perang dingin antara SBY dan Megawati, hasilnya kenapa belum ada arah yang pasti?

Demokrat terlihat menepi dan memilih diam atas situasi yang terjadi. Sebaliknya, justru kubu Prabowo di dekati istana merayu dan mengajak rekonsiliasi anak bangsa.

Selesai pengumuman KPU yang memenangkan jokowi-MA, Kubu Prabowo berusaha tampil menerima setelah gugatan ke MK tidak menemukan hasilnya. Sebuah tawaran atas nama rekonsiliasi menghampiri meja. Dan seperti yang sudah kita baca di pemberitaan, mulai dari pertemuan antara Jokowi-PS, dan beberapa hari yang lalu, sudah ada pertemuan antara mega-PS.

Media berita dan publik lebih tertarik kemana arah Prabowo dari pada memikirkan kenapa Demokrat menghilang.

Baca Juga:   Tenang Bu Mega, Surya Paloh Juga Abaikan Pancasila

ADA APA DENGAN DEMOKRAT?

Dalam diri saya pun bertanya, mengapa Demokrat terlihat membisu saat ini? Kubu demokrat hanya menyisakan Ferdinand Hutahean berselancar dengan kolor merahnya tanpa ada teman teman setia seperti Jensen sitandoan, andi Arif dan panca.

Caleg gagal Demokrat ini memang menjadi ikon ketika masih menjadi tim pemenangan Prabowo-Sandi. Namun kali ini, entah kenapa dia menjadi duri dalam daging atas komentar dan opini yang di lontarkan. Selalu mencari permusuhan.

MENEBAK LANGKAH DEMOKRAT

Sebagai partai yang pernah berkuasa, kondisi Demokrat saat ini sangat memprihatinkan. Seharusnya, mereka lebih terlibat dalam politik di pemerintahan. Walau tidak berada di lingkungan koalisi, Demokrat bisa melakukan kritik dan masukan dengan pengalaman mereka memerintah.

Sayang..

Politik abu-abu yang mereka praktekkan malah membuat Demokrat menjadi partai yang perolehan suaranya paling turun secara signifikan.

Tahun 2009 perolehan suara 20%
Tahun 2014 perolehan suara 10%
Tahun 2019 perolehan suara 7%

Kode merah buat demokrat.

Pencapaian Demokrat di tangan SBY sudah gak bisa lagi di anggap biasa. Kesalahan memainkan langkah politik membuat Demokrat harus menelan pil pahit di perolehan suara pemilu 2019. Dan lucu, kalau turunnya suara ini di kaitkan dengan koalisi mereka dengan Prabowo. Justru Prabowo menyelamatkan demokrat sehingga perolehan suara masih di batas 7%, jika tidak bergabung bisa jadi suara yang diperoleh di bawag 7%.

Dengan pencapaian itu, mau di bawa kemana Demokrat oleh SBY?

Mencolong star sudah mereka lakukan saat oposisi masih berjuang dalam keyakinan memenangkan pemilu 2019. Namun hasil yang di dapat, bukan mereka yang menjadi Bintang rebutan. Justru Gerindra.

Jika di bandingkan Gerindra , Demokrat masih kalah jauh harga nya. Ibarat harga cabai, Gerindra saat ini adalah cabai merah yang segar. Menarik mata semua pihak, kemana pun gerindra melangkah akan menjadi pemberitaan publik. Sedangkan Demokrat, hanya cabai sisa sortiran. Cabai yang yang bentuknya tidak sempurna, dan akan berakhir di mesin giling dicampur adonan tahu dan wortel. Harganya gimana? Separuh dari harga cabai segar.

Baca Juga:   Coliseum Democracy

Kemarin, kubu demokrat merendahkan tawarannya pada Jokowi. Tidak neko-neko lagi mengajukan syarat tinggi. Jika ada kader Demokrat di jadikan menteri, 1 saja kader Demokrat di jadikan menteri, maka mereka akan merapat pada Jokowi.

https://m.cnnindonesia.com/nasional/20190803014559-32-418017/demokrat-masuk-koalisi-jokowi-bila-kader-dipilih-jadi-menteri

Membaca ini, saya sedih. Ibarat orang kaya yang jatuh miskin dan menerima nasib.

Demokrat menyerahkan sepenuhnya pada Jokowi. Dan Jokowi, jika syarat Gerindra di terima dalam koalisi, rasanya mustahil Demokrat akan mendapatkan jabatan menteri. Artinya, Demokrat akan menjadi oposisi.

Dan kita lihat, apakah oposisi ini akan menjadi abu2 seperti 2014 silam? Jika itu yang mereka lakukan, maka ucapkan selamat tinggal Demokrat karena bisa jadi di tahun 2024, tida akan ada lagi nama mereka di parlement.

Menurut saya, perseteruan Demokrat bukan lagi pada PDI-P dengan sang ibu suri. Melainkan dengan Gerindra bersama Prabowo.

Jika Prabowo bergabung ke koalisi, maka Demokrat bisa di pastikan akan menyendiri mencari kawan di oposisi. Jika kubu Prabowo memutuskan oposisi di akhir Agustus esok, maka demokrat akan semangat mendekati Jokowi. Pilihannya adalah,

“Aku pergi jika kau memilih dia…”

Bentar lagi, lagunya akan beredar. Lagi proses mixing.

Bukittinggi, 3 Agustus 2019

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
[COVID19 confirmed_title="Cases" deaths_title="Deaths" recovered_title="Recovered"]
%d bloggers like this: